"Journey, it's not about where you go, where you stay, but how you enjoy it with or without friends. Be grateful" - Mine

Kamis, 11 Agustus 2011

Maluku : Tidak Bermaksud Untuk Menakuti

Dengan judul diatas, pasti pada penasaran saya mau nulis apa, ya kan ya kan??? (kalo ini kertas mungkin udah dirobek, sayangnya ini digital, menang gue, hehe). Jadi gini, ini bukan tulisan tentang hantu yang tipikal banget erat dengan ketakutan. Bukan juga tulisan tentang preman-preman Maluku bermuka sangar yang kerjaannya tukang palak. Ini tulisan tentang orang Mabok.

Sebenarnya di kota -kota lain juga banyak ya masyarakat pecinta tuak yang biasanya punya nama-nama berbeda setiap daerahnya. Masyarakat Maluku lebih mengenal dengan sebutan Cap Tikus. Biasanya minuman yang satu ini naik daun menjelang Natal dan Tahun Baru. Produksi bisa berlipat kali ganda dibanding hari biasa. Nah, waktu saya ke Maluku saat Natal dan Tahun Baru, saya dilarang orangtua untuk keluar dari rumah apalagi sendirian di malam hari kalo udah malam Natal dan Tahun Baru. Apa hubungan, orang mabok, Cap Tikus, dan keluar malam-malam saat Natal dan Tahun Baru?

Ternyata diluar rumah akan banyak orang mabuk berjalan di pinggir jalan. Mereka kadang udah ilang kesadarannya. Baik laki-laki maupun perempuan hampir sama aja kelakuannya kalo udah parah banget minum Cap Tikus. Tidak sedikit kecelakaan terjadi saat Natal dan Tahun Baru. Tidak hanya malam tapi juga siang hari, kecenderungan orang mabok berkeliaran di jalanan. Saya pernah melihat seorang perempuan berjalan bersama seorang lelaki dengan penampakan yang lusuh sambil berbicara tidak jelas.

Yang sedih, kenapa malam Natal dan Tahun Baru jadi banyak yang meninggal karena mabok sama Cap Tikus? Makanya saya ngga suka banget kalo liat orang-orang berkumpul dan sedang menikmati minuman itu. Dan lebih parahnya lagi, waktu itu saya pernah main ke sebuah pantai. Sampai di pantai ini, saya sudah mencium bau menyengat. Ternyata bau Cap Tikus yang semerbak dari pendopo-pendopo yang berjejer di pinggir pantai. Saya cuma bisa perhatiin orang-orang yang sedang duduk-duduk dengan santai disana sambil menggeleng-gelengkan kepala. Cuma saya yang merasa tidak nyaman berada di pantai itu lama-lama. Teman saya memberikan sedikit info tentang pantai ini. Dia bilang pantai itu dulu sempat di bom ketika kerusuhan Maluku. Ketika itu, banyak orang sedang berenang di laut dan bom meledak (kurang tahu apakah bom dilempar atau bagaimana). Air laut pun berubah menjadi merah darah. Pantai ini bernama Pantai Luwari. Cukup bagus tapi sayangnya banyak orang mabok.

Jadi, berhati-hatilah kalo ke Maluku saat akhir Desember karena kalo ngga hati-hati, kita yang seharusnya tidak bersalah, bisa jadi tersangka, hehe. Yang jelas orang mabok ngga akan pernah sadar apa yang dia lakuin, entah udah kecebur got terus naik lagi terus kecebur lagi. Mereka raja jalanan deh pokoknya.

Rabu, 10 Agustus 2011

Belitung : Ada Apa Dengan Motornya?

Ada apa sih dengan motor di Belitung? Pastinya ada hal yang menarik dengan motor di Belitung. Bukan karena motornya lebih keren daripada motor-motor di kota lain. Dan bukan juga karena yang mengendarai lebih maco-maco, hehe. Yang menarik adalah kewajaran masyarakat Belitung untuk mempunyai motor yang tidak berspion. Ya mungkin di Jakarta dan kota sekitarnya masih ada motor yang tidak lengkap kaca spionnya. Entah itu spion kiri atau kanan. Jarang sekali ditemukan kedua spionnya tidak ada. Kalau ada juga bisa dihitung pakai jari.

Kalau kalian nanti ke Belitung, ngga usah capek-capekin diri untuk menghitung berapa banyak motor yang tidak berspion. Karena hampir semua motornya tidak berspion. Kalau ada juga, paling cuma spion kanan atau spion kirinya aja.

Aduh.. trendy banget deh motor Belitung. Jenis motornya sama aja kaya yang biasa kita liat di TV. Tapi setelah keluar dari showroom motor atau ketika beli motor, biasanya spion memang sengaja dilepas oleh penjual motor. Saya sama sekali tidak mengerti mengapa hal ini terjadi. Entah untuk mengurangi biaya pembelian atau supaya si pengendara tidak merasa tertantang dengan pengendara yang ada di belakangnya (pemikiran asal-asalan).

Awalnya saya hanya memperhatikan beberapa motor saja yang tidak berspion. Yang saya perhatikan hanya motor anak-anak muda. Ya mungkin mereka merasa lebih gaul dengan motor tidak berspion. Tapi kok setelah diliat secara sadar, ternyata motor polisi juga tidak berspion. Sebenarnya siapa sih yang salah dan ngga tahu peraturan? Polisi pun tidak berspion, metalnya. Saya makin penasaran dengan hal yang mungkin sangat sangat dianggap wajar oleh masyarakat Belitung. Sayangnya, saya sudah menghapus foto motor-motor di rental tempat saya meminjam motor yang bisa dijadikan sebagai bukti otentik. Saat itu saya masih menyimpan rasa penasaran sampai akhirnya menemukan jawaban yang sebenarnya juga tidak masuk akal tentang motor tidak berspion.

Saya pun bertanya kepada pemilik penginapan. Dia berkata sudah menjadi hal yang biasa kalau motor tidak berspion. Karena menurut mereka,"Cukup dengan Doa Ibu saja kita selamat". Haaaah? Doa Ibu???! Sungguh sesederhana itukah alasan mencopot kaca spion yang kegunaanya cukup penting dari sebuah motor? Kaca spionnya terus dikemanain? Tapi saya pun tidak enak menuntut jawaban lebih jauh karena udah mentok di "Doa Ibu". Ibu memang Dewa deh.hahaha. Rasanya pengen langsung nanya sama polisi tapi ngga kepikiran waktu itu. Ya lagi-lagi, "Doa Ibu".