"Journey, it's not about where you go, where you stay, but how you enjoy it with or without friends. Be grateful" - Mine
Tampilkan postingan dengan label jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jawa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2012

#1 Gunung Papandayan: Depok-Garut-Cisurupan-Camp David!


Halo Papandayan!
Awalnya saya tidak sama sekali mengenal Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat. Saya tidak tahu bahwa gunung ini memiliki keindahan alam yang beragam. Perjalanan saya dimulai dengan enam orang teman yang dua diantaranya baru saya kenal saat perjalanan baru akan dimulai. Kami menunpangi bis Karunia Bakti AC rute Kp.Rambutan-Garut selama 5 jam. Tiba di terminal Garut pukul 19.00 WIB, kami mencari angkot carter menuju Desa Cisurupan. Kurang lebih 1 jam, kami tiba di Desa Cisurupan. Tidak terlalu sulit mendapatkan transportasi malam itu. Kami bertawar mobil bak untuk melanjutkan perjalanan Desa Cisurupan-Camp David (pos pendakian Gn. Papandayan). Mobil bak hitam berisi 7 orang pun bergerak menanjak sejauh 2 km menuju Camp David. Di atas mobil bak, kami memandangi bintang-bintang yang malu-malu keluar dari sarangnya. Langit terang pertanda cuaca baik untuk pendakian esok pagi. Kami sempat berhenti 20 menit untuk mampir membeli makan malam di warung kecil tidak jauh dari gapura Selamat Datang Desa Cisurupan.

Mobil bergerak kembali namun kali ini jalan sangat berbatu sehingga mobil mengedan. Was-was mendengar suara mobil yang mengerang seperti pesawat hendak lepas landas. Tiba-tiba mobil menyerah. Hal terburuk kami harus jalan menanjak aspal malam itu. Sayangnya, hal buruk itu terhindar dengan kedatangan mobil bak berukuran lebih kecil dari sebelumnya. Akhirnya, kami hanya membayar 70% dari harga aslinya karena kami harus berpindah mobil lain. Sisa perjalanan menuju Camp David dilanjutkan dengan mobil bak yang bersuara lebih mulus dan nyaman.

Suara nyanyian kawula muda dengan gitarnya mulai terdengar. Ternyata kami sudah tiba di Camp David. Fasilitas di Camp David cukup memadai dengan adanya tempat parkir, pos penjaga, warung serta toilet umum. Tubuh mulai menyesuaikan suhu dingin di ketinggian 2000 mdpl. Jelas bahwa pendakian kami sudah diawali dengan menumpangi mobil bak Cisurupan-Camp David, hehe. Kami segera mendaftarkan diri untuk pendakian esok pagi. Bisa dikatakan cukup beruntung karena kami tidak perlu mendirikan tenda di Camp David untuk bermalam. Kami diberikan ruang kecil cukup untuk 7 orang tidur. Ruang ini sesungguhnya berfungsi sebagai pos yang menyediakan lesehan bambu untuk duduk atau berbaring. Di atas bambu inilah, badan 7 manusia malam itu merebahkan diri. Saat itu pukul 23.00 WIB, kami tertidur beralaskan dua sleeping bag yang ditebarkan di atas bambu tadi.

Tak mau tubuhnya kedinginan, salah seorang dari tim kami begitu siap dengan kostum hangatnya sampai-sampai raincoat terpilih menjadi kostum paling luar dari beberapa lapisan kostum sebelumnya. Alhasil, raincoat celana yang terlihat begitu ketat terpaksa robek dan tidak dapat digunakan kembali. Kami hanya dapat tertawa geli melihat aksi teman baru kami itu yang sangat waspada akan dingin.

Jam menunjukan pukul 02.00 WIB, kami semua terbangun karena ada teman kami yang meminta sleeping bag sambil berceloteh,”Sombong banget lo semua kalo ngga pake sleeping bag!”. Saat itu juga, kami semua mengambil sleeping bag masing-masing. Sejujurnya, kami semua kedinginan hanya saja kami sedikit bersandiwara malam itu, hehehe. Pagi hari yang dinanti pun tiba. Cuaca Camp David bersinar sekaligus menggetarkan badan. Dengan cuek, saya mengganti kostum celana pendek hitam dan kaos hitam untuk melawan suhu dingin saat trekking nanti. Kami packing dan bersiap mendaki dimulai pukul 07.00 WIB.

Raincoat All Size

Camp David Pagi Hari
Pos Camp David

#2 Gunung Papandayan: Bertamu Ke Rumah Si Cantik Edelweis


Fenomena alam pertama yang kami jumpai tidak jauh dari Camp David adalah kawah-kawah papandayan. Terdapat kurang lebih 14 kawah di Gn. Papandayan. Di lokasi ini kami hanya melihat beberapa kawah yang bergemuruh. Kawah ini merupakan tujuan wisata layaknya Tangkuban Perahu atau Kawah Putih Ciwidey. Namun, trek menuju kawah ini tidak seperti Kawah Putih karena trek lebih berbatu dan menanjak. Kami semua mulai menggunakan masker agar tidak terhirup asap belerang. Jika merasa kuat dengan asap belerang, telapak tangan mungkin cukup untuk menahan bau belerang. Sedikit sulit bagi saya yang berkacamata ketika hidung dan mulut saya ditutup dengan masker, dan hembusan napas mengenai kacamata. Hal ini menyebabkan kacamata saya berkabut. Untungnya, trek melewati asap belerang tidak begitu panjang. 


Masker disimpan kembali dan kami pun menuruni jalan kawah dan menemukan sungai kecil. Selanjutnya bukit-bukit batu menghiasi alam tempat kami memijakan kaki. Pemandangan bak bukit-bukit di Swiss atau New Zealand ini nampaknya membuat kami berhenti sebentar untuk berfoto (padahal pulang lewat sini lagi). Trek beragam mulai dari kerikil-kerikil kawah, bukit-bukit pasir, dan sesekali jalur datar bahagia. Kurang lebih 3 jam sudah kami menyusuri jalur yang berliku tibalah kami di Pondok Saladah. Areal padang seluas 8 hektar ini hanya ditumbuhi sedikit edelweiss. Tanah datar cukup lapang membuat Pondok Salah direkomendasikan sebagai tempat berkemah di ketinggian 2282 mdpl. Namun, tim kami hanya memilih Pondok Saladah sebagai tempat peristirahatan sementara. Pukul 09.30 WIB, kami mengeluarkan beberapa perbekalan untuk mengisi tenaga. Saya juga sempat bertanya kepada beberapa orang mengenai jalur menuju dead forest, Tegal Alun, dan Puncak. Namun, saya mendapatkan beberapa versi.
Hutan Mati

Jam menunjukkan pukul 10.30 WIB dan pendakian dilanjutkan menuju dead forest atau hutan mati. Menurut sketsa peta abstrak yang kami dapatkan dari penjaga pos Camp David, gunung putih yang dimaksud adalah dead forest. Memang dari Pondok Saladah, dead forest terlihat seperti gunung yang berwarna putih. Berkat bantuan seorang lelaki SMA asal Garut, kami sampai di hutan mati. Saya juga sempat bertemu dengan kawanan anak muda asal Bandung yang mengaku tinggal satu gang. Mereka baru saja turun dari Tegal Alun tanpa membawa cariel karena perlengkapan mereka tinggalkan di tenda Pondok Saladah. Mereka juga berkata bahwa tidak akan ada yang berkemah di Tegal Alun. Informasi ini tidak menyurutkan niat kami untuk mendirikan tenda di Tegal Alun. Mengenai alam hutan mati, hutan ini terbentuk akibat letusan Gunung Papandayan tahun 2002. Hutan sekitar menjadi kering dan dipenuhi dengan abu vulkanik. Hutan mati menjadi fenomena alam yang mengagumkan jika diabadikan dengan lensa kamera. Abu vulkanik dan pohon-pohon keringnya sesekali terlihat serupa dengan pohon kering dan salju saat musim dingin.

Lima Kawan Baru dari Bandung (Hutan Mati)
Tujuan kami sesungguhnya adalah Tegal Alun. Padang Edelweis yang berada di ketinggian 2.600 mdpl. Kami disambut dengan meriah oleh hamparan edelweis seluas 32 ha. Sungguh luar biasa bagi saya yang baru kali kedua melihat bunga-bunga abadi yang tumbuh liar di padang seluas ini. Bahagia tentunya bisa menginjakan kaki di Tegal Alun. Kami tiba sendiri. Berkemah sendiri. Hingga turun dari Tegal Alun sendiri. Kami seperti tamu VVVIP di Kerajaan Edelweis Tegal Alun.


Sebelum tiba di Tegal Alun, saya sempat mendapatkan informasi kalau di dekat Tegal Alun terdapat sumber air. Akhirnya beberapa dari kami harus mencari sumber air tersebut untuk menambah persediaan air minum dan masak. Sebagian dari kami mulai mendirikan tenda, mencari kayu bakar untuk api unggun, dan memasak makan siang di sore hari, haha. Beberapa jam kemudian, teman-teman pun kembali dengan membawa botol-botol berisi air segar dari mata air yang mereka temukan, Dan saat itu juga makanan besar kami sudah siap untuk disantap.

Kira-kira pukul 18.30 WIB kami selesai makan dan mulai menyalakan api unggun. Entah mengapa waktu terasa begitu lambat. Mungkin Tegal Alun masih merindukan kami bersamanya (gombal pisan). Saya suka sekali kehadiran api unggun, celotehan malam ngalur ngidul, dan segelas white coffee yang disuguhkan malam itu. Kami saling berbagi cerita dan pengalaman dari berbagai ilmu pasti sampai yang tidak pasti sekalipun, hahaha. 

Malam masih panjang sekali. “Spertinya tungku mulai padam...” seru salah satu teman saya yang nampaknya mulai mengambil langkah untuk masuk ke dalam tenda. Mari kita habiskan malam dengan bermain kartu. Bosan bermain kartu, beberapa dari kami memasak minuman-minuman hangat sambil mulai menengok ke atas langit. Ya, surga bintang betul-betul malam itu. Kali ini saya melihat bintang layaknya pasir di langit. Malam itu, di atas langit Tegal Alun, kami menyaksikan panorama galaksi bimasakti atau Milky Way. Sumber google mengatakan bahwa ada sekitar 200-400 milyar bintang dengan ketebalan 1000 tahun cahaya dan  diameter 100.000 tahun cahaya di galaksi bimasakti ini. Bahagia bukan main. Siang hari melihat hamparan edelweiss, malam hari melihat hamparan bintang. Tegal Alun atas bawah oke berat!


Pondok Saladah




Akhirnya Sampai Di Tegal Alun
Sunrise Dari Tegal Alun
Si Cantik Edelweis, Tegal Alun
Tegal Alun Pagi Hari

Foto oleh Novita Eka Syahputri

#3 Gunung Papandayan: Ragam Alam Dalam Satu Pendakian




Tak habis-habisnya saya dijamu oleh Tegal Alun. Malam hari suhu dingin menusuk telapak kaki saya yang sesungguhnya sudah terlapisi 3 potong kaos kaki ditambah plastik di dalam sleeping bag. Habis gelap terbitlah terang (akhirnya). Masih dingin dan dingin di Tegal Alun. Tapi setidaknya cahaya matahari mulai menyinari bukit-bukit dan padang edelweiss pagi itu. Melihat persediaan air yang kurang setelah sarapan pagi, saya bersama beberapa teman mengunjungi mata air bidadari (sebutan fiktif) untuk mengisi persediaan air minum, mencuci peralatan masak, dan cuci muka. Ternyata menuju mata air perlu berhati-hati karena harus turun ke bawah bukit yang tanahnya lumayan lembek. Kira-kira 20 menit saya tiba di mata air tersebut.

Mencari Mata Air Bidadari
Segera kami menyelesaikan aktivitas di mata air bidadari. Saya lupa bercerita kalau kami sempat melihat jejak binatang seperti jejak babi hutan. Mungkin memang ada babi hutan namun untungnya binatang itu tidak menyerang kami kemarin malam. Jika memang ada babi hutan di sekitar anda, tebarlah garam di sekitar tenda. Jam menunjukan pukul 09.30 WIB. Kami bersiap-siap merapikan semua alat yang masih tercecer di dalam tenda. Packing serapi mungkin dan pungut sampah sebersih mungkin. Tidak ada satu sampah yang tertinggal karena lebetulan di Tegal Alun belum ada jasa tukang sapu, hehehe.

Satu jam sebelum matahari tepat di atas kepala, kami mengucapkan selamat tinggal kepada Tegal Alun dan an bersiap menuruni gunung berjarak ratusan mdpl. Sepatu bertemu kembali dengan jalur beraneka rupa ala Gn. Papandayan. Dan nampaknya alas sepatu saya sudah mulai terbuka. Jalur yang kami lalui tidak terlalu jauh berbeda. Hanya ada beberapa jalur cepat dan nyaman yang kami pilih dari sebelumnya. Tali-tali rafia yang terikat di pohon mulai memulihkan ingatan kami untuk pulang ke Camp David.

Tak lupa juga kami sekali lagi mengabadikan momen-momen indah di setiap jejak yang sudah kami lalui di Gn. Papandayan. Mulai dari Pondok Saladah, Hutan Mati, bukit, sungai, dan kawah. Terimakasih kepada Tuhan karena telah memberikan cuaca yang begitu cerah selama kami melalukan pendakian ke Papandayan. Selain itu, keberanian untuk kami berkemah di Tegal Alun. Meskipun kami tidak sampai puncak, saya sudah merasa puas bisa menikmati indahnya Tegal Alun. Bukan karena cepat merasa puas tapi karena resiko yang cukup besar untuk bisa summit tanpa ada petunjuk yang jelas. Berkenalan dengan teman-teman baru menjadi salah satu hal yang sukai ketika mendaki gunung. Nampaknya kali ini, Gn. Papandayan berhasil meluluhkan hati saya dengan harta terpendamnya.

Sampai Jumpa Tegal Alun








Biaya Angkutan Menuju Kp. Rambutan - Camp David:
-Bis Kp. Rambutan/Pasar Rebo - Garut Rp 33.000,-
-Carter Angkot Terminal Garut-Desa Cisurupan Rp 110.000,- (7 orang)
-Desa Cisurupan- Camp David Rp 10.000,-
-Retribusi Camp David Rp 3.000,-

Senin, 09 Januari 2012

Rafting Pertama Kalinya

november 2011 (adventure)



Pengalaman kali ini bisa dibilang cukup menantang. Saya dan teman-teman Mapala UI divisi rafting mengadakan perjalanan singkat ke Citarik. Sebenarnya saya cuma sekedar ikut-ikutan aja dengan anak-anak yang lebih dikenal dengan anak Arjer (Arung Jeram). Tujuan mereka ke Citarik untuk kesekian kalinya ini adalah berlatih menjadi skipper dan membawa awak yang belum pernah berhadapan dengan jeram seperti saya ini.


Camping Ground
Kalau banyak orang biasanya mengikuti paket wisata arung jeram di Citarik dengan membayar skipper dan perahu, saya tidak membayar paket tersebut. Kebetulan perlengkapan teman-teman arjer saya ini cukup lengkap. Mereka membawa dua perahu merk Avon dan Basemarine beserta peralatan lainnya, seperti dayung, helm, pelampung, dan dry bag.

Kami sampai di camping ground Citarik malam hari menjelang subuh. Pagi hari, kami sarapan terlebih dahulu, kemudian mengenakan baju dan perlengkapan yang nyaman saat rafting nanti. Selanjutnya, kami menyewa mobil pick-up untuk mengangkut kami dan perahu-perahu rafting. Persiapan perahu dimulai dengan memompa dan membuat simpul di sekitar perahu. Setelah semua siap, kami memulai dengan pemanasan dan latihan defense di air apabila terlanjur jatuh ke sungai. Nampaknya, keberuntugan kurang berpihak. Saya gagal mengikuti petunjuk yang diarahkan oleh teman saya. Badan yang cukup langsing ini sepertinya kurang dapat menguasai arus sungai saat itu. Untungnya, ada 1 orang lagi yang juga pertama kali mencoba rafting jadi saya ngga norak sendirian,hehe.Setelah latihan defense, saya ditunjukan beberapa teknik mendayung, yaitu dayung ke depan, ke belakang (block), dan ada juga tarik (saya agak kurang paham ini buat apa, nanti saya tanya lagi,hehe). 

Pompa Perahu Manual
Menjadi skipper cukup sulit daripada yang saya bayangkan. Tapi sejujurnya saya tidak pernah membayangkan skipper di arung jeram itu seperti apa dan bagaimana ia memimpin awak untuk mengarahkan dayung mereka. Teman-teman arjer pun bergantian berlatih menjadi skipper. Seorang skipper memang harus cepat berpikir dalam mengambil keputusan. Ketepatan mengambil arus juga menentukan posisi perahu yang dibawa. Setiap awak juga harus sigap mendengar setiap instruksi yang diberikan skipper. Maka dari itu, orang yang daya tangkapnya kurang dan mudah panik diharapkan untuk tidak terlalu berminat dengan rafting (menurut saya loh).

Hari pertama rafting, arus kurang deras sehingga pergerakan perahu juga cukup lamban. Kami juga harus kuat-kuat mendayung. Hari kedua rafting, saya lebih menikmati karena arus lebih kuat dengan ketinggian air yang pas (lupa berapa). Saya sempat terjatuh ke sungai dan langsung ditarik oleh salah satu teman saya ke dalam perahu layaknya karung beras. Namun, entah kenapa, setelah berhari-hari rafting badan saya terasa gatal di beberapa bagian. Mungkin air sungai yang tidak bersahabat dengan kulit atau kulit saya yang tidak mau berteman dengan air sungai Citarik,haha.


Saya memang sepertinya sudah terjebak dalam latihan arung jeram yang cukup singkat dan keras, haha. Pundak dan lengan pegal-pegal akibat mendayung. Tetapi saya cukup beruntung karena dengan biaya 160rb, saya sudah bisa menikmati camping ground dengan tenda beralaskan kasur tipis dan mengarungi jeram dengan teman-teman yang paham dengan kegiatan yang menantang ini.

Selasa, 18 Oktober 2011

Gede Pangrango : Mau dong...

14-16 Oktober 2011 (adventure)

"Mungkin kita bukan yang pertama tapi momen ini akan jadi yang pertama untuk mengenal masing-masing kita demi mencapai satu tujuan, Puncak Gede Pangrango..."

 

Momen ini dimulai dengan pertemuan saya dan seorang lelaki di kursi bis Psr.Rebo-Cipanas. Baru saja saya duduk di sebelahnya, teman-teman yang duduk berbaris di belakang jok kami berteriak,"Dia homo kok...". Dalam hati saya,"kok alay banget ya ini anak-anak", kaya baru liat cewek aja, haha. Bis pun berjalan dan percakapan dimulai. Ternyata dia, sebut saja Aming, mempunyai tujuan yang sama seperti saya dan teman-teman menuju Cipanas, tempat dimana jalur Gn.Putri berada. Suatu keberuntungan bisa bertemu Aming dan teman-teman karena sesungguhnya saya dan kawan-kawan Suma belum ada yang begitu paham dengan jalur Gn.Putri. Waktu itu kami cuma berharap dengan lembaran-lembaran kertas yang isinya jalur dan waktu pendakian milik teman kami. Ngeliat kertasnya aja udah kaya mau ujian besok, haha.

Hampir 2 jam lebih berada di dalam bis, ya pokoknya sampe di Cipanas (cepetin dikit ya ceritanya). Sampailah kami di Cipanas, suhu udara sudah mulai berubah. Ternyata, jumlah anak-anak UIN (Aming n'friends) cukup banyak, mana jantan semua lagi, ngga ada yg awewe barang sebiji gitu. Nasib saya menjadi wanita paling cantik edisi perjalanan kali ini,hehe. Selanjutnya, kami pun melanjutkan perjalanan dengan menyewa angkot menuju TNGP Gn. Putri. Kami bermalam hingga subuh menjemput tubuh yang diselimuti dinginnya angin saat itu. Mau dong........

Langit pun mulai terang. Pagi itu, saya, lisan, ryan, dika, dan oky memutuskan untuk bergabung secara resmi dengan tim UIN yang diketuai oleh Asep alias Bolang (Anggota Arkadia). Perasaan ini cukup aman karena paling tidak ada 1 anak mapala yang bisa memimpin perjalanan. Inilah anggota tim UIN : Asep, Aming, Fatih, Ipul, Gaston, Kwen, Ibenk, Seto. Kami semua bergabung dan resmi membentuk Grup PURPACALA (Pura-pura Pecinta Alam). Mantap !

Dengan doa dan niat besar di dalam hati ini, kami bersiap menuju target pertama... JAYA KENCANA!! (udah gede, salah lagi) SURYA KENCANA kalee...Pul ! haha. Baru saja beberapa menit kami melewati jalan setapak pinggir sawah, nafas mulai engap. Mungkin badan masih kaget dan pemanasan kurang. Pemanasan pake rokok sih... haha.

Beberapa jam kemudian....

"Bisa biasa aja ngga sih tanjakannya!" terucap dari bibir ini yang kayanya udah pengen diantup lebah hutan yang juga ngga santai beterbangan. "Gue mending dipukulin polisi bedarah-darah deh, langsung slese..!" seru Seto yang nampaknya butuh truk gandeng buat narik badannya sampe Surken.

Perjalanan kian menanjak. Sudah tidak terhitung berapa kali kami beristirahat. Kami pun bertemu banyak pendaki-pendaki dengan umur yang beragam, mulai dari bocah kira-kira umur 6 tahun hingga ibu-ibu 40 tahunan. Wah, niat semakin semakin besar melihat umur kami yang masih muda dan... nampaknya umur bukan jaminan, haha. Ternyata tidak semua anggota tim Purpacala melakukan persiapan joging yang cukup untuk pendakian ini. "Bangun aja jam 11 siang, ga sempet joging.." hayo sapa ini yang ngomong hayo. Dari Coki-Coki sampe Madurasa dikonsumsi untuk menambah persediaan tenaga.


Pendakian melalui jalur Gn. Putri memang lebih cepat dibandingkan Cibodas tapi sekalinya nanjak panjang banget. Ga nahan coy, betis. Koyo mulai menjalar di beberapa bagian tubuh. Oia, ada satu barang yang belum disebutkan dari tadi, Kacamata Hitam, mamen. Kayanya ini aksesoris yang Penting Banget buat Gaston, Asep, Ibenk, Ipul selama pendakian.

 Wah, apalagi si Ipul, pendaki dengan aksesoris terbanyak. Mp3, BB, Headset, Kacamata, Topi, Aki (buat isi batre gadgetnya, haha). Ipul ini manusia paling aktif selama perjalanan. Aktif dan terampil mengeluarkan suara-suara teman sepergaulannya, Beruk. Wuuuuuukk....! Bunyi ini sangat penting untuk menjadi tanda dimana keberadaan anggota lain yang terpencar-pencar. Ibarat mobil, bacotnya Ipul tuh kaya mobil-mobil 4WD, haha.

"Istirahat dulu, makan.. ini ada nasi uduk, bakwan.." ucap salah satu penjual nasi uduk yang tawarannya tidak sama sekali menggoda kami. Kaki terasa bosan berpijak di akar-akar liar Gn. Putri. Tidak semua kami menggunakan sepatu treking. Ada yang pake sendal gunung, running shoes, dan sepatu kuliah (satu-satunya sepatu yang dimiliki, pasrah amat mas). Beberapa saat kemudian.. "Nasi uduk.. nasi uduk..". Saya, oky, lisan, dika, dan ryan pun menyerah dan sangat bernafsu untuk makan nasi uduk si akang. "Beli.. beli.. beli..". Astaga, nasi uduk paling datar sedunia akherat. Ya mau gimana lagi, adanya kaya gitu. Telornya tipis terus cuma 1/4 telor dadar aja pake bihun dan sambal dikit. Tapi biar secuil, perut juga nerima. Waktu itu posisi sudah dekat dengan Simpang Maleber. Dan kami pun menghabiskan nasi uduk beserta bakwan yang nampaknya memberikan secercah harapan untuk segera sampai di Surya Kencana.

Singkat cerita...

Kami berhasil mencapai padang edelweis yang saat itu cukup terik. Edelweis nampaknya tidak sedang bermekaran. Sejenak melepas carrier, berbaring sambil menunggu beberapa teman yang belum kunjung tiba. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi di bawah sana wahai Seto, Aming, Fatih, Kwen? Mereka tak kunjung datang. Asep mengajak untuk mencari tempat untuk berkemah.

Mata tidak lelahnya melihat sekeliling padang. Hati terobati dengan ciptaan Tuhan yang begitu indah di atas sini. "Kalo aja gue tinggal di bawah kaki gunung, tiap weekend gue main kesini kaya bocah-bocah yang denger-denger udah 11 kali ke Puncak Gede". Lama-lama jadi manusia akar deh tuh bocah-bocah, haha.
Spot kami berkemah terletak di balik semak-semak yang agaknya telah memberi kehangatan di malam minggu itu. Tiga kemah didirikan. Satu kemah kecil digunakan khusus untuk meletakan barang-barang saya dan kawan-kawan Suma, sekaligus menjadi tempat peristirahatan Oky (anak baru tidur sama barang dulu, anget loh). Suara angin dan kawan-kawan baru mulai bersahabat di telinga saya. Sambil memasak dan menikmati logistik masing-masing, celotehan "Mau dong" mulai dilempar satu-persatu. Adaaaaa aja yang di-Mau dong-in, haha. Fatih, chef tim UIN, terlihat setia memasak makanan untuk anak-anaknya. Macam warkop atau burjo (di Jawa) yang setia melayani pelanggan 24 jam. Dan Saudara Ipul mencoba untuk bercerita. Namun, nampaknya sangat gagal dan garing berat pokoknya. Tahun depan coba lagi ya, Pul.

Satu per satu kami mulai masuk ke dalam tenda, beristirahat menyimpan tenaga untuk perjalanan menuju Puncak Gede. Kami semua terlelap dan... Sunrise nampaknya sudah sangat rise kawan-kawan..haha. Semua terbangun lewat dari waktu yang ditentukan. Tapi besarnya niat untuk mencapai puncak tetap melekat di hati dan jiwa ini, lebay. Kami semua dengan cepat packing alat-alat kelompok dan pribadi.



Sinar matahari yang ditepis kabut memberikan kenikmatan tersendiri di pagi cerah Surken. Badan serasa ditusuk-tusuk dan muka berasa ditampar angin sejuk pagi itu. Kami pun merekam beberapa momen bersama di Surken. Tiga belas, bukanlah angka sial, jumlah tiga belas menjadi kekuatan untuk menggapai Puncak yang kami semua impikan. Setelah Asep memberikan pidato mujarabnya, kami menyatukan doa dan niat, dengan bersama meneriakan,"PURPACALA!" Berangkat...

Ibarat manusia bisa hidup tanpa oksigen, menuju puncak mustahil bila tidak ada jalur menanjak. "Baru jalan dikit aja udah engap, parah-parah" ucap Si Bolang, lelaki berkerudung biru yang mencari gadis berkerudung merah di Puncak Gede, hehe.

Dengan sekuat tenaga, sampailah di puncak. Selamat!
Saya sesaat terdiam dan mencoba menjawab pertanyaan yang sempat saya tanyakan ke Lisan,"Kenapa orang bisa suka naik gunung ya kalo nanjaknya aja menderita banget?". Memang cuma puncak yang bisa menjawab. Rasa bangga dan kebersamaan bercampur. Dika dan Ryan segera mengambil dslr-nya dan menjepret momen-momen indah kami semua. Tak ketinggalan, Fatih juga menjepret kawan-kawannya yang nampaknya sangat antusias terlihat dengan gaya Gaston yang bertelanjang dada, bercelana sobek-sobek, plus kacamata hitam andalannya..

Setelah puas jeprat-jepret dengan berbagai angle dan komposisi, kami bersiap menuruni puncak menuju kandang badak. Wah, Seto tersenyum lebar banget kayanya kalo turun. Turun tuh emang lebih enak jauh daripada naik, mau dong diturunin...


Persediaan air menipis. Saya sampai lupa minum atau ngga yah pas turun. Terakir minum pocari pas di puncak. Di kandang badak, Fatih buka lapak warkop lagi, hehe. Batre music gadget-nya Ipul masih aja nyala. Beneran pake aki nih kyanya. 'Kemana..kemana..." suara  "Ipulnya lagi nyari logistik di Bantargebang, yu". hahaha. parah-parah.

Botol-botol yang kosong terisi kembali. Cukup untuk masak dan persediaan air untuk turun.

Duh cowok-cowok penyakitnya emang di dengkul ya kalo turun. Makanya jangan cuma sehat fisik aja, mental juga dong, hahaha, sotoy. Sempat kami beristirahat di air panas untuk berendam dan mengisi perut. Semua logistik berat dikeluarkan. Kami makan bersama hasil masakan Fatih, Aming, dan Gaston. Wuidiiih.. mantap. Kentang pake sosis, kornet, sama indomi goreng dibagi bertiga belas. Setelah perut terisi kembali, kami kembali menuruni jalur cibodas.

Hari makin gelap sehingga langkah harus sedikit dipercepat. Kali ini Fatih yang bertugas membawa "Carrier Keramat UIN" yang sebelumnya lebih banyak digendong sama Asep. "Cepet..cepet..sampe yaampun, udahan", berbisik di dalam hati.


Alhamdulilah, Puji Tuhan, Awignamastu !

Kami sampai satu per satu di TNGP Cibodas. Lega banget rasanya bisa melihat kehidupan yang sesungguhnya bukan cuma hutan, batu,beserta akar-akarnya. Keringat yang mengucur pun mengering sesaat. Misi pun terselesaikan. Kami pun keluar dari TNGP Cibodas, menapaki jalan aspal pedesaan. Malam Senin ini, kami habiskan dengan makan bersama di rumah makan yang sudah menjadi langganan Fatih dan Asep, yaitu Mang Iding.


Pesan Kesan untuk Anggota Purpacala dari UIN...

Asep : entah harus bahagia atau derita bawa carrier keramat hampir selama perjalanan naik lewat putri, udah biasalah ya sep, kan Arkadia, parah-parah..
Fatih : cocok punya istri yang ga bisa masak..
Aming : tempat duduk membawa berkah..
Gaston : denger-denger tasnya ransel tapi isinya air semua? Pantes air cepet abis, hehe
Kwen : galau mas...
Seto : mending dipukulin polisi drpd naik gunung, yakin?
Ibeng : joging kalo mau naik lain kali
Ipul : no comment-lah, hahaha

saya bersama tim UIN
Seto, Kwen, Gaston, Ipul, Ibenk, Fatih, Asep


saya bersama tim SUMA UI
Oky, Lisan, Ryan, Dika

foto oleh febrian alsah, fatihadi, stenisia, mahardhika

Sabtu, 06 Agustus 2011

Dieng : Too Sweet Too Forget

Juni 2011
Suhu udara mencapai 15 derajat. Kamar dimana saya beristirahat seperti dikelilingi 3 AC. Tidak dapat dibayangkan betapa dinginnya di luar ruangan. Waktu menunjukan pukul 4 pagi. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya kami akan berangkat melihat sunrise di Dieng.

Setelah semua bangun dan membawa perlengkapan menuju lokasi sunrise kami bersiap menuju lokasi. Sebenarnya sudah ada beberapa rombongan sudah ada yang jalan terlebih dahulu dan kami merasa kami akan terlambat untuk melihat sunrise. Namun, pemilik penginapan memberitahukan bahwa kami hanya membutuhkan waktu 20 menit dari penginapan menuju lokasi sunrise. Akhirnya, kami pun bergegas masuk ke mobil dan mtancap gas ke TKP.
Keadaan masih gelap diliputi kabut di sisi kiri kanan jalan. Kami mencoba mengikuti petunjuk jalan yang diberitahukan oleh penjaga penginapan. Semakin lama kok semakin sulit rute jalan yang kami lewati. Jalannya menanjak dan banyak batu serta berlubang. Jalan menyempit dan sesekali gas harus memaksa. Corolla tahun 89 seakan terkejut menerima cobaan yang berat di pagi itu. Sedan itu bagaikan mobil Strada yang beroda kecil. Jalur semakin gelap. Dengan keterbatasan alat penerangan yang kami punya, kami terus menelusuri jalur yang tidak berpenghuni sama sekali. Akhirnya, kami sampai di sebuah area yang di depannya benar-benar kosong tidak jelas.
Kami satu per satu turun dari mobil untuk mengecek jalur tersebut. Kami cukup dikecohkan oleh kabut pagi itu. Selama 15 menit kami stuck di area ini. Langit sudah terlihat lebih terang dari sebelumnya. Aduh sayang sekali kalau kami tidak sempat menikmati sunrise di Dieng. Akhirnya, ada sebuah cahaya mengarahkan pandangannya ke arah kami. Kami pun perlahan mendekati cahaya tersebut. Dan ternyata ada sekelompok mas-mas bersarung dan berkupluk. Segera kami bertanya area macam apa ini, hehe. Ternyata kami salah besar. Area tersebut bukanlah jalur menuju Sunrise melainkan area pertambangan Pertamina. Pantas saja sepinya minta ampun.
Tanpa menghabiskan waktu yang lebih banyak lagi, kami segera tancap gas, putar balik, dan mencari lokasi sunrise yang sesungguhnya. Layaknya orang asing, kami pun terus bertanya-tanya ke warga sekitar, dimana kami bisa melihat sunrise. Jalan terasa lebih mulus dari sebelumnya. (singkat cerita) Kami sampai di lokasi sunrise. 
Daerah di sekeliling tempat ini ditumbuhi dengan tanaman kentang yang daunnya terlihat seperti daun bayam. Kami pun langsung mendaki bukit dengan cekatan mengingat hari sudah mulai terang. Sampai di atas bukit cukup atas, kami menikati Sunrise Dieng walau dengan sedikit napas tergopoh-gopoh. Agung, supir handal, mengeluarkan kamera pocketnya dan kami pun berfoto-foto.
Tanaman Kentang

Setelah puas menikmati sunrise, kami turun dan menuju lokasi wisata berikutnya. Waktu kira-kira menunjukan pukul 8. Kami menuruni bukit dan kembali menumpangi mobil.
Corola 1989

Tempat wisata berikutya merupakan icon wisata Diengyaitu Telaga Warna (hijau). Jiwa petualang kami sangat besar disini. Kami pikir jalur dari wisata ini adalah jalan lurus yang bisa mengelilingi danau. ternyata, sudah ada jalur khusus yang disediakan oleh pengelola wisata utuk menikmati objek wisata ini. Waktu itu kami benar-benar mengelilingi danau dengan jarak beratus-ratus meter dengan trek rumput-rumput basah dan tanah agak becek. Ditambah lagi kami sampai mengunjungi sebuah pesanggrahan yang terlihat sangat keramat. 

Pesanggrahan

Rawa Basah

Tambang Belerang

Telaga Warna
Yang seharusnya pengunjung hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit untu berjalan santai disini, kami sukses menghabiskan waktu 1 jam untuk kembali ke tempat semula. Tetapi semua perjalanan entah salah atau benar, pasti selalu ada hikmahnya. Kalau saya dan kawan-kawan tidak kesasar, kami tidak akan mempunyai foto-foto menarik semacam ini, yang mungkin tidak pernah dimiliki oleh semua orang yang sudah pernah mengunjungi Telaga Warna.

Kami pun berkunjung ke Kawah Singkidah dan Candi Arjuna setelah mengunjungi Telaga Warna



Candi Arjuna

Thanks to: Hafiz (kiri), Asthari (kanan), dan Agung (paling kanan). Guys... You're The Best !