"Journey, it's not about where you go, where you stay, but how you enjoy it with or without friends. Be grateful" - Mine
Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 September 2012

Rinjani: Hal-Hal Kecil Penting Untuk Pendakian



Bukit Teletubies, Padang Savana
Meskipun aktivitas trekking gunung sifatnya into the wild dan petualangan tapi yang namanya fisik itu tetap harus dijaga. Perlindungan fisik selama mendaki juga tidak hanya dari dalam tubuh, yaitu dengan makan-makanan yang bergizi untuk kekuatan tubuh. Tetapi kita juga perlu mengonsumsi perlindungan dari luar demi menjaga kulit tubuh, seperti misalnya pemakaian sunblock SPF agak tinggi selama mendaki Rinjani. Penggunaan sunblock sangat disarankan karena rata-rata pendaki baik saat naik atau turun gunung pasti melewati siang hari. Hal ini sangat berguna untuk mewaspadai kulit terbakar meskipun mungkin cuaca Rinjani di siang hari tidak selamanya panas.

Rekomendasi
Sunblock Wajah
Setiap pagi sebelum mulai pendakian, saya selalu menggunakan dua sunblock yang berbeda. Ada yang untuk wajah dan ada yang untuk kulit. Mungkin perempuan lebih peduli daripada laki-laki kalau masalah kulit. Tapi kalau terlalu cuek juga tidak baik. Buat mereka yang malas pakai sunblock, siap-siap Rinjani membakar tubuhmu.

Baju lengan panjang dan celana panjang memang lebih nyaman untuk dipakai selama pendakian. Ya, sekali lagi, bagi yang mau tanning gratis ala pendaki-pendaki bule, boleh saja pakai kaos lengan pendek dan hot pants! hehehe. Karena banyak bule yang cuek aja padahal panas dan debu Rinjani itu sangat menyebalkan. Bahkan saya pernah liat bule ber-tanktop tanpa bra saat ingin pergi dari Segara Anak. Topi, slayer, buff, dan kacamata juga perlu dibawa dan dipakai saat mendaki. Ingat sekali waktu saya pertama kali membersihkan hidung dengan sehelai tisu ketika sedang beristirahat di pos 1. Saya agak kaget dan setengah percaya kalau tisu itu langsung menghitam. Ternyata lubang hidung saya udah kaya knalpot. Ini mungkin karena saya jarang menggunakan penutup hidung selama mendaki. Serba salah juga sebenarnya kalau pakai slayer, saputangan, atau masker untuk menutup bagian pipi dan hidung karena nafas juga sesak. Intinya kita juga harus bisa menyesuaikan pemakaian alat-alat yang kita perlukan sesuai kebutuhan.

Buff Pelindung Wajah, Kuping, dan Leher
Potong kuku sebelum mendaki. Berjam-jam mendaki di Rinjani tidak hanya membuat hidung menjadi knalpot dan muka cemong tetapi juga kuku-kuku kotor. Karena tangan kita tidak jarang berpegangan kiri kanan batu atau mungkin terperosot ketika mendaki. Maka dari itu, jangan aneh kalau nanti kuku jadi coklat-coklat hitam apalagi yang kukunya panjang-panjang. 

Botol Splash

Oia, waktu itu satu botol hand sanitizer saya, habis terpakai sampai saya pulang ke Jakarta. Alasannya karena tiap kali tiba di camping ceria, saya dan teman-teman langsung bersihin tangan pakai hand sanitizer. Hand sanitizer dan tisu kering setidaknya bisa mengurangi penggunaan tisu basah yang lebih urgent digunakan untuk membersihkan wajah, alat-alat masak, dan buang air. Tips lain untuk perempuan yang mungkin agak mau ribet sedikit, sediain botol semprot ukuran kecil berisi air mentah yang saya sebut "splash-splash". Saya sendiri waktu itu pakai semprotan splash-splash ini untuk membersihkan dan menyegarkan wajah yang sudah kotor. Kemudian lap wajah pakai tisu kering. Sebotol kecil ini cukup sampai kita turun Rinjani. Setidaknya 4x semprot air ini ke wajah bisa save 1 tisu basah dan sampah juga kan.

Otot pegal linu? Pakai salep pegal-pegal malam hari sebelum tidur. Biar besok paginya segar. Pilih salep yang agak mahal karena harga ngga pernah bohong. Karena percuma juga kan banyak-banyak pakai yang ecek-ecek tapi pegalnya ngga berkurang (pengalaman). 

Semua perlengkapan tubuh di atas memang sudah menjadi perlengkapan biasa para pendakian gunung. Tetapi kali ini sifatnya cukup memaksa untuk dibawa dan digunakan di Rinjani. Jadi, jangan lupa bawa mereka semua ke Rinjani. Dan jangan hanya melindungi tubuh saat naik gunung tapi tetap waspada saat turun gunung baik dalam atau luar tubuh.

Rinjani: Mancing, Makan, Berendam

Gunung Baru Jari dan Segara Anak
Naik gunung merupakan kegiatan traveling yang memberikan sensasi berbeda. Apalagi kalau yang sudah sering naik gunung. Pasti selalu punya pengalaman berbeda tiap kali naik gunung. Karena tiap gunung di Indonesia itu pasti punya keindahannya masing-masing. Bedanya orang yang berwisata ke gunung dan ke pantai itu adalah orang yang ke gunung itu biasanya lebih sangat terkagum-kagum dengan ciptaan Tuhan yang begitu dahsyatnya dan lebih dahsyatnya lagi adalah ketika kita bisa menikmati itu semua. Dan salah satu bukti kedahsyatan-Nya adalah Danau Segara Anak di ketinggian 2.008 mdpl TNGR.

Cahaya Merasuk ke Segara Anak
Ini dia bonus yang bisa dinikmati oleh para pendaki setelah berlelah-lelah menapaki Puncak Rinjani 3.726 mdpl. Dari Plawangan Sembalun (pos menuju puncak), saya turun menuju danau yang luasnya 1.100 hektar. Kurang lebih 3 jam melewati bebatuan dan pasir dari Plawangan Sembalun sampai di Segara Anak. Di sisi timur danau ini terdapat sebuah gunung yang meletus tahun 1994, yaitu Gunung Baru Jari. Gunung berketinggian 2.236 mdpl tersebut masih aktif dan terus berkembang.

Lagi-lagi soal pemandangan, Rinjani benar-benar meluluhkan hati saya. Pagi hari pukul 06.00 WIT, saya bersama beberapa teman, berusaha keluar dari tenda di camp site segara anak. Kami memutuskan untuk melakukan jalan pagi dan menikmati indahnya matahari pagi yang masih setengah sadar. Serasa mimpi tapi realita betul. Danau ini adalah danau yang tadi kemarin pagi saya lihat dari atas Puncak Rinjani. Semua angle danau ini tidak ada yang tidak bagus. 

Pagi itu, saya melihat indahnya danau luas dengan gunung mengelilinginya bak pegunungan-pegunungan Swiss dan Canada. Sulit untuk dideskripsikan lagi bagaimana saat matahari bangun memancarkan cahayanya ke gunung, bukit, pohon, dan danau. Magic! Bisa ngga saya punya rumah masa depan letaknya di depan danau seperti ini? Dijamin tidak ada binatang buas disini. Jadi, kalau punya bayangan ada beruang grizzly muncul di kawasan Segara Anak salah besar.

Asik Dapat Ikan!
Para pendaki dan porter mulai memancing pagi itu. Ikan gurame dan nila bisa dipancing hanya dengan kail dan umpan ubi. Ada beberapa pendaki yang mencoba berendam di danau ini. Mereka tampak segar sekali seketika mencelupkan diri ke dalam danau. Perlu diketahui bahwa danau ini memiliki kedalaman 160-230 meter. Jadi usahakan jangan begitu dalam jika mau berendam. Dan jangan meminum air di danau ini karena masih mengandung belerang meskipun hanya sedikit.



Kenikmatan mata pun turun ke kenikmatan perut. Bonus yang bisa anda dapatkan jika mengunjungi Danau Segara Anak adalah makan ikan sepuasnya. Asal sabar mancing saja, ikan pasti ada. Kalau saya memang lebih memilih untuk berdoa untuk teman-teman saya yang atas kesadaranya masing-masing ingin mencoba sensasi mancing di Segara Anak, hehehe. Dengar-dengar ada yang bilang kalau ada orang yang tidak mendapatkan ikan sama sekali, orang itu dinobatkan sebagai orang tersial. Ya, secara logika emang sial sih kalau di danau seluas dan sedalam itu tidak sama sekali mendapatkan ikan. Mungkin kurang amal kali tuh orang.

Ikan-ikan tangkapan pun siap dibersihkan! Ikan yang masih segar sudah bersih, akhirnya siap untuk dibumbui kombo, yaitu dengan tepung ayam dan ikan instan. Kurang lebih 10 ekor ikan yang kami goreng. Surprise!! Lezatnya makan ikan segar di Segara Anak triple-triple-kombo nikmat. Padahal bumbu tepung instan itu juga asal dicampur aja. Kapan lagi mancing di gunung bisa langsung goreng dan makan tanpa harus pakai alat pancing pula.

Hot Spring
Sudah bosan makan ikan goreng. Saya bergegas menuju hot spring. Ini dia bonus selanjutnya yang anda dapatkan jika berkunjung ke Danau Segara Anak! Hot springnya luas tinggal pilih mau di spot mana. Di depan atau agak belakang ada. Kalau ke Hot Spring, coba berpindah spot sedikit ke belakang. Disana ada air terjun panasnya loh. Sauna plus-plus! Sesaat mari kita merebahkan badan yang sudah mulai meringis hampir menangis ini.

Rinjani memang bikin sakit hati treknya tapi Rinjani benar-benar tidak ingin membuat pendaki kecewa ketika bermain ke rumahnya. Buktinya, para pendaki tidak hanya mendaki tetapi juga dapat bonus-bonus menarik di Danau Segara Anak. Nanti kalau ada waktu ke Rinjani lagi, saya mau berlama-lama di Segara Anak saja. No Summit! thanks. hahaha

foto: Novita Eka Syahputri, Devina Dwi Soraya

Rinjani: Yang Kuat Yang Ber-Swallow!

Bagaimana bisa naik Rinjani hanya beralaskan swallow? Bisa, jalur trekking yang cukup ekstrim bisa ditaklukan dengan sepasang sandal jepit swallow. Dan, para pendaki ulung pemilik sandal tersebut adalah para porter Rinjani. Porter-porter Rinjani adalah penduduk lokal lombok yang mencari nafkah dengan cara membantu para wisatawan baik mancanegara maupun domestik untuk sampai ke tujuan Rinjani yang diinginkan.

Kenapa saya bilang begitu karena Rinjani memiliki lokasi wisata yang bisa dipilih untuk dikunjungi tanpa harus sampai di Puncak Rinjani terlebih dahulu, seperti misalnya Segara Anak, Hot Spring, Goa Susu, dan lain sebagainya. Tetapi rata-rata pendaki Rinjani sudah siap menguji nyali mereka menapaki jalur Puncak Rinjani yang sifatnya PHP alias pemberi harapan palsu. Saya betul-betul merasakan multi-fatamorgana ketika mendaki puncak berpasir, berbatu, dan ber***sek tersebut. haha

Profil Porter Rinjani
Kembali ke perbincangan mengenai kedekatan porter dan swallow. Kalau kita para pendaki menggunakan sepatu trekking dengan segala merk dan sendal trekking dengan segala bentuk, sang porter Rinjani hanya mengenakan sandal swallow dengan satu warna. Kenapa bisa sampai kompak gitu milih warna sandal swallow? Ini bukan masalah pilihan tapi takdir. hahaha. Jadi, trek Rinjani itu kan beragam. Ada yang savana, ada yang bebatuan sampai yang semi rock climbing, yang pasir perosotan juga ada.

Walaupun beragam seperti itu, hampir semua trek Rinjani berpasir. Hanya kadar pasirnya saja berbeda-beda. Nah, kalau sepasang kaki porter ber-swallow tanpa kaos kaki terkena pasir terus-menerus berjam-jam, apa jadinya warna kaki porter tersebut. Bisa dibayangkan warnanya. Maka dari itu, hampir semua warna sandal porter itu sama, abu-abu keputih-putihan (gambar kanan).

Porter-porter ini biasanya disewa oleh turis-turis asing yang bela-belain ke Indonesia untuk mendaki Rinjani. Padahal orang-orang Indonesia juga belum tau letak Rinjani itu di pulau mana sebelah mana Indonesia. Setidaknya masih ada teman-teman pecinta alam dan penikmat alam yang dari mulut ke mulut mempromosikan salah satu daya tarik wisata Pulau Lombok ini. Dan penduduk lokal yang berprofesi sebagai porter sesungguhnya salah satu pendukung pariwisata Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sekaligus mendapatkan keuntungan finansial.

Para porter membawa berbagai keperluan camping dan logistik. Bisa dikatakan porter ini seperti ibu rumah tangga yang sedang mengurus anak-anaknya. Karena porter-porter ini seketika menjadi chef dadakan di gunung sana. Menurut info, menu makanan untuk bule-bule juga bisa disesuaikan dengan permintaan. Kalau mereka menu american, porter harus bisa menyediakannya, nikmatnya. Selain itu, porter juga harus mampu berbahasa inggris demi kemudahan berkomunikasi dengan para turis. Banyaklah yang bisa disumbangkan para porter untuk pendaki bule-bule tersebut. Bahkan pendapatan seorang porter Rinjani mampu membeli rumah untuk anak istrinya.

Namun, dibalik itu semua, pendakian Rinjani dengan sandal jepit swallow mungkin bayaran yang mahal untuk mereka. Itu baru satu anggota tubuh, belum anggota tubuh lain, seperti pundak yang menanggung beban berkilo-kilo demi kebahagiaan para pendaki. Salut dengan porter-porter yang berkali-kali naik-turun Rinjani tanpa ada busa alas kaki. Jadi pelajarannya adalah alas kakimu tidak menentukan presetasimu! It's all about passion :)

Rinjani: Semua Tentang Ambil Air, Hemat Air, dan Buang Air

Ambil air, hemat air, dan buang air merupakan hal tricky selama saya di Rinjani. Lima hari empat malam adalah waktu terlama saya stay di gunung. Air minum harus pintar-pintar dihemat tapi kalau terlalu hemat juga pencernaan bisa sulit. Kalau terlalu banyak minum juga, harus rajin-rajin ambil air. Itu juga kalau ada sumber air di tempat dimana kita mendirikan tenda. Kalau tidak ada dan stock air pribadi sudah habis harus siap-siap tahan haus. Serba salah.

Di Rinjani sendiri, hampir semua air yang berasal dari mata air di beberapa pos bisa saya minum. Yang paling segar itu sumber air di Plawangan Sembalun. Di Segara Anak juga ada sumer air yang letaknya tidak jauh dari camping ground dan hot spring. Usahakan ketika turun Rinjani, manfaatkan air dengan sebaik mungkin. Jika turun jalur Senaru, saya baru bisa ketemu sumber air sebelum pintu hutan senaru. Ada sumber air tapi airnya berwarna namun tidak berasa. Sugesti haus mungkin sudah merasuk pikiran saya jadi tidak peduli lagi yang penting minum. Tipsnya, kalau ada jus-jusan atau nutrisari dicampur saja biar lebih nikmat. Tapi usahakan bertanya-tanya kalau memang mau minum langsung dari mata air takutnya masih mengandung belerang.

Taktik minum hemat itu adalah punya persediaan air minum 600 ml di luar carrier. Sewaktu-waktu haus bisa cepat dikonsumsi. Ketika lelah trekking, coba untuk berhenti dan diam sejenak. Hirup udara segar dan tatap pemandangan sekitar jalur trekking Rinjani.   Kalau memang haus sekali, baru minum. Kalau kita berhenti kemudian langsung minum, pasti air yang diminum akan lebih banyak daripada kalau kita berheti kemudia tarik napas dan diam sejenak. Trik yang teman saya sarankan ini cukup terbukti untuk menghemat persediaan air saat mendaki atau menuruni Rinjani.

Benar kata orang kalau air itu memang sumber kehidupan. Tapi kalau di gunung, tidak semua air itu bisa menjadi sumber kehidupan tergantung bagaimana kita menyiasatinya. Ada air yang memang bisa dikonsumsi dan ada air yang sesungguhnya sangat-sangat tidak disarankan untuk dikonsumsi, misalnya air yang sudah "dibuang". hahaha

Mengapa saya berkata seperti itu karena mungkin ini menjadi pengalaman yang tidak terlupakan untuk saya dan teman-teman selama melakukan aktivitas "buang air" di Rinjani. Tanpa malu-malu dan sudah sewajarnya aktivitas ini dilakukan oleh manusia. Nah, kalau di gunung, hanya tempat pembuangannya saja berbeda tapi prosesnya tetap sama. Bagi yang ingin hiking, harus sudah siap untuk buang air alami tanpa air. Alasannya sederhana, kita buang air tapi kita juga harus tetap hemat air kan di gunung. Katanya harus hemat air kok malah buang air, nah loh. hahaha

Tips buang air pertama, yaitu harus selalu sedia tisu basah yang banyak. Tapi jangan buang-buang tisu juga setelah dipakai untuk membersihkan. Tips kedua, kalau sudah buang air di tanah jangan lupa dikubur lagi. Meskipun memang ada saja orang-orang yang meninggalkan ranjau kasat mata menyebalkan. Yang terpenting adalah tidak boleh merasa jijik. Karena bahaya juga kalau menahan sisa pencernaan selama di gunung. Beda cerita kalau memang belum ingin dikeluarkan, simpan saja baik-baik sampai waktu yang memungkin. Semua itu memang lebih indah pada waktunya, hehe.

Beruntung kalau bisa dapat air banyak seperti misalnya ketika saya berhasrat untuk buang air di dekat Segara Anak, Rinjani. Saya bisa mengisi botol kosong dengan air danau dan pakai sepuasnya. Tapi kalau di pos-pos yang tidak terjangkau air bersih, cuma tisu basah penyelamat manusia-manusia sakit perut.

Beberapa pos di Rinjani juga menyediakan WC umum. Tapi siap-siap masuk ke dalam pintu neraka. Keharumannya double attack. haha. Teman saya yang sempat menikmati keadaan dalam WC  Segara Anak bilang, kalau lubang WC itu sesungguhnya hanya lubang tanah yang jauh ke dalam dan penuh dengan kumpulan-kumpulan kotoran para pendaki beserta porter. Tak terbayangkan setengah mati jika jatuh ke dalam sana. hueek. Waktu itu saya sama sekali tidak tertarik untuk masuk ke WC umum dengan ciri khas kotak besi berwarna hijau tua. Cerita lucu dari salah seorang teman saya yang ternyata dikejar monyet sesaat ingin mengeluarkan sampah perutnya di salah satu wilayah Segara Anak. hahaha. Lain halnya lagi bagi teman saya yang sangat lancar pencernaannya dan keseringan buang air. Ujung-ujungnya jadi sakit dan keras. Memang tidak ada yang tidak butuh perjuangan selama di gunung bahkan untuk "membuang air" sekalipun.

Beda cerita lagi dengan saya. Memasuki hari ke-5, saya baru bisa buang air Tapi rasanya tidak aman sekali ketika sesosok mahluk putih kecoklat-coklatan berekor berkaki empat mendekati saya ketika proses sedang dilaksanakan. Dia mengendus-ngendus dan nampaknya dia setengah mabuk dan gila, kawan...

Dia semakin mendekat dan akhirnya semakin intim dengan saya yang sedang menikmati surga duniawi di balik pohon. ASTAGA.. dasar binatang! Anjing itu mendekati saya, entah dia lapar atau iseng (ngga paham lagi). Mahluk berkaki empat ini tidak mau menjauh dari saya padahal sudah saya usir dengan tokat kayu. Finally, saya buru-buru pergi meninggalkan lapak surga duniawi saya. Baru kali ini, boker digangguin dan lebih parahnya lagi anjing itu me-recycle alias memakan hasil sampah perut saya. Harus marah, tertawa, atau sedih kali ini saya pilih ketiga-tiganya. hahaha.


Dear, Anjing Pintu Hutan Senaru:

"How was the taste? It was a special edition 5 days package from Rinjani for you! Lain kali jangan ganggu saya! hahaha

Kamis, 19 Juli 2012

#1 Gunung Papandayan: Depok-Garut-Cisurupan-Camp David!


Halo Papandayan!
Awalnya saya tidak sama sekali mengenal Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat. Saya tidak tahu bahwa gunung ini memiliki keindahan alam yang beragam. Perjalanan saya dimulai dengan enam orang teman yang dua diantaranya baru saya kenal saat perjalanan baru akan dimulai. Kami menunpangi bis Karunia Bakti AC rute Kp.Rambutan-Garut selama 5 jam. Tiba di terminal Garut pukul 19.00 WIB, kami mencari angkot carter menuju Desa Cisurupan. Kurang lebih 1 jam, kami tiba di Desa Cisurupan. Tidak terlalu sulit mendapatkan transportasi malam itu. Kami bertawar mobil bak untuk melanjutkan perjalanan Desa Cisurupan-Camp David (pos pendakian Gn. Papandayan). Mobil bak hitam berisi 7 orang pun bergerak menanjak sejauh 2 km menuju Camp David. Di atas mobil bak, kami memandangi bintang-bintang yang malu-malu keluar dari sarangnya. Langit terang pertanda cuaca baik untuk pendakian esok pagi. Kami sempat berhenti 20 menit untuk mampir membeli makan malam di warung kecil tidak jauh dari gapura Selamat Datang Desa Cisurupan.

Mobil bergerak kembali namun kali ini jalan sangat berbatu sehingga mobil mengedan. Was-was mendengar suara mobil yang mengerang seperti pesawat hendak lepas landas. Tiba-tiba mobil menyerah. Hal terburuk kami harus jalan menanjak aspal malam itu. Sayangnya, hal buruk itu terhindar dengan kedatangan mobil bak berukuran lebih kecil dari sebelumnya. Akhirnya, kami hanya membayar 70% dari harga aslinya karena kami harus berpindah mobil lain. Sisa perjalanan menuju Camp David dilanjutkan dengan mobil bak yang bersuara lebih mulus dan nyaman.

Suara nyanyian kawula muda dengan gitarnya mulai terdengar. Ternyata kami sudah tiba di Camp David. Fasilitas di Camp David cukup memadai dengan adanya tempat parkir, pos penjaga, warung serta toilet umum. Tubuh mulai menyesuaikan suhu dingin di ketinggian 2000 mdpl. Jelas bahwa pendakian kami sudah diawali dengan menumpangi mobil bak Cisurupan-Camp David, hehe. Kami segera mendaftarkan diri untuk pendakian esok pagi. Bisa dikatakan cukup beruntung karena kami tidak perlu mendirikan tenda di Camp David untuk bermalam. Kami diberikan ruang kecil cukup untuk 7 orang tidur. Ruang ini sesungguhnya berfungsi sebagai pos yang menyediakan lesehan bambu untuk duduk atau berbaring. Di atas bambu inilah, badan 7 manusia malam itu merebahkan diri. Saat itu pukul 23.00 WIB, kami tertidur beralaskan dua sleeping bag yang ditebarkan di atas bambu tadi.

Tak mau tubuhnya kedinginan, salah seorang dari tim kami begitu siap dengan kostum hangatnya sampai-sampai raincoat terpilih menjadi kostum paling luar dari beberapa lapisan kostum sebelumnya. Alhasil, raincoat celana yang terlihat begitu ketat terpaksa robek dan tidak dapat digunakan kembali. Kami hanya dapat tertawa geli melihat aksi teman baru kami itu yang sangat waspada akan dingin.

Jam menunjukan pukul 02.00 WIB, kami semua terbangun karena ada teman kami yang meminta sleeping bag sambil berceloteh,”Sombong banget lo semua kalo ngga pake sleeping bag!”. Saat itu juga, kami semua mengambil sleeping bag masing-masing. Sejujurnya, kami semua kedinginan hanya saja kami sedikit bersandiwara malam itu, hehehe. Pagi hari yang dinanti pun tiba. Cuaca Camp David bersinar sekaligus menggetarkan badan. Dengan cuek, saya mengganti kostum celana pendek hitam dan kaos hitam untuk melawan suhu dingin saat trekking nanti. Kami packing dan bersiap mendaki dimulai pukul 07.00 WIB.

Raincoat All Size

Camp David Pagi Hari
Pos Camp David

#2 Gunung Papandayan: Bertamu Ke Rumah Si Cantik Edelweis


Fenomena alam pertama yang kami jumpai tidak jauh dari Camp David adalah kawah-kawah papandayan. Terdapat kurang lebih 14 kawah di Gn. Papandayan. Di lokasi ini kami hanya melihat beberapa kawah yang bergemuruh. Kawah ini merupakan tujuan wisata layaknya Tangkuban Perahu atau Kawah Putih Ciwidey. Namun, trek menuju kawah ini tidak seperti Kawah Putih karena trek lebih berbatu dan menanjak. Kami semua mulai menggunakan masker agar tidak terhirup asap belerang. Jika merasa kuat dengan asap belerang, telapak tangan mungkin cukup untuk menahan bau belerang. Sedikit sulit bagi saya yang berkacamata ketika hidung dan mulut saya ditutup dengan masker, dan hembusan napas mengenai kacamata. Hal ini menyebabkan kacamata saya berkabut. Untungnya, trek melewati asap belerang tidak begitu panjang. 


Masker disimpan kembali dan kami pun menuruni jalan kawah dan menemukan sungai kecil. Selanjutnya bukit-bukit batu menghiasi alam tempat kami memijakan kaki. Pemandangan bak bukit-bukit di Swiss atau New Zealand ini nampaknya membuat kami berhenti sebentar untuk berfoto (padahal pulang lewat sini lagi). Trek beragam mulai dari kerikil-kerikil kawah, bukit-bukit pasir, dan sesekali jalur datar bahagia. Kurang lebih 3 jam sudah kami menyusuri jalur yang berliku tibalah kami di Pondok Saladah. Areal padang seluas 8 hektar ini hanya ditumbuhi sedikit edelweiss. Tanah datar cukup lapang membuat Pondok Salah direkomendasikan sebagai tempat berkemah di ketinggian 2282 mdpl. Namun, tim kami hanya memilih Pondok Saladah sebagai tempat peristirahatan sementara. Pukul 09.30 WIB, kami mengeluarkan beberapa perbekalan untuk mengisi tenaga. Saya juga sempat bertanya kepada beberapa orang mengenai jalur menuju dead forest, Tegal Alun, dan Puncak. Namun, saya mendapatkan beberapa versi.
Hutan Mati

Jam menunjukkan pukul 10.30 WIB dan pendakian dilanjutkan menuju dead forest atau hutan mati. Menurut sketsa peta abstrak yang kami dapatkan dari penjaga pos Camp David, gunung putih yang dimaksud adalah dead forest. Memang dari Pondok Saladah, dead forest terlihat seperti gunung yang berwarna putih. Berkat bantuan seorang lelaki SMA asal Garut, kami sampai di hutan mati. Saya juga sempat bertemu dengan kawanan anak muda asal Bandung yang mengaku tinggal satu gang. Mereka baru saja turun dari Tegal Alun tanpa membawa cariel karena perlengkapan mereka tinggalkan di tenda Pondok Saladah. Mereka juga berkata bahwa tidak akan ada yang berkemah di Tegal Alun. Informasi ini tidak menyurutkan niat kami untuk mendirikan tenda di Tegal Alun. Mengenai alam hutan mati, hutan ini terbentuk akibat letusan Gunung Papandayan tahun 2002. Hutan sekitar menjadi kering dan dipenuhi dengan abu vulkanik. Hutan mati menjadi fenomena alam yang mengagumkan jika diabadikan dengan lensa kamera. Abu vulkanik dan pohon-pohon keringnya sesekali terlihat serupa dengan pohon kering dan salju saat musim dingin.

Lima Kawan Baru dari Bandung (Hutan Mati)
Tujuan kami sesungguhnya adalah Tegal Alun. Padang Edelweis yang berada di ketinggian 2.600 mdpl. Kami disambut dengan meriah oleh hamparan edelweis seluas 32 ha. Sungguh luar biasa bagi saya yang baru kali kedua melihat bunga-bunga abadi yang tumbuh liar di padang seluas ini. Bahagia tentunya bisa menginjakan kaki di Tegal Alun. Kami tiba sendiri. Berkemah sendiri. Hingga turun dari Tegal Alun sendiri. Kami seperti tamu VVVIP di Kerajaan Edelweis Tegal Alun.


Sebelum tiba di Tegal Alun, saya sempat mendapatkan informasi kalau di dekat Tegal Alun terdapat sumber air. Akhirnya beberapa dari kami harus mencari sumber air tersebut untuk menambah persediaan air minum dan masak. Sebagian dari kami mulai mendirikan tenda, mencari kayu bakar untuk api unggun, dan memasak makan siang di sore hari, haha. Beberapa jam kemudian, teman-teman pun kembali dengan membawa botol-botol berisi air segar dari mata air yang mereka temukan, Dan saat itu juga makanan besar kami sudah siap untuk disantap.

Kira-kira pukul 18.30 WIB kami selesai makan dan mulai menyalakan api unggun. Entah mengapa waktu terasa begitu lambat. Mungkin Tegal Alun masih merindukan kami bersamanya (gombal pisan). Saya suka sekali kehadiran api unggun, celotehan malam ngalur ngidul, dan segelas white coffee yang disuguhkan malam itu. Kami saling berbagi cerita dan pengalaman dari berbagai ilmu pasti sampai yang tidak pasti sekalipun, hahaha. 

Malam masih panjang sekali. “Spertinya tungku mulai padam...” seru salah satu teman saya yang nampaknya mulai mengambil langkah untuk masuk ke dalam tenda. Mari kita habiskan malam dengan bermain kartu. Bosan bermain kartu, beberapa dari kami memasak minuman-minuman hangat sambil mulai menengok ke atas langit. Ya, surga bintang betul-betul malam itu. Kali ini saya melihat bintang layaknya pasir di langit. Malam itu, di atas langit Tegal Alun, kami menyaksikan panorama galaksi bimasakti atau Milky Way. Sumber google mengatakan bahwa ada sekitar 200-400 milyar bintang dengan ketebalan 1000 tahun cahaya dan  diameter 100.000 tahun cahaya di galaksi bimasakti ini. Bahagia bukan main. Siang hari melihat hamparan edelweiss, malam hari melihat hamparan bintang. Tegal Alun atas bawah oke berat!


Pondok Saladah




Akhirnya Sampai Di Tegal Alun
Sunrise Dari Tegal Alun
Si Cantik Edelweis, Tegal Alun
Tegal Alun Pagi Hari

Foto oleh Novita Eka Syahputri

#3 Gunung Papandayan: Ragam Alam Dalam Satu Pendakian




Tak habis-habisnya saya dijamu oleh Tegal Alun. Malam hari suhu dingin menusuk telapak kaki saya yang sesungguhnya sudah terlapisi 3 potong kaos kaki ditambah plastik di dalam sleeping bag. Habis gelap terbitlah terang (akhirnya). Masih dingin dan dingin di Tegal Alun. Tapi setidaknya cahaya matahari mulai menyinari bukit-bukit dan padang edelweiss pagi itu. Melihat persediaan air yang kurang setelah sarapan pagi, saya bersama beberapa teman mengunjungi mata air bidadari (sebutan fiktif) untuk mengisi persediaan air minum, mencuci peralatan masak, dan cuci muka. Ternyata menuju mata air perlu berhati-hati karena harus turun ke bawah bukit yang tanahnya lumayan lembek. Kira-kira 20 menit saya tiba di mata air tersebut.

Mencari Mata Air Bidadari
Segera kami menyelesaikan aktivitas di mata air bidadari. Saya lupa bercerita kalau kami sempat melihat jejak binatang seperti jejak babi hutan. Mungkin memang ada babi hutan namun untungnya binatang itu tidak menyerang kami kemarin malam. Jika memang ada babi hutan di sekitar anda, tebarlah garam di sekitar tenda. Jam menunjukan pukul 09.30 WIB. Kami bersiap-siap merapikan semua alat yang masih tercecer di dalam tenda. Packing serapi mungkin dan pungut sampah sebersih mungkin. Tidak ada satu sampah yang tertinggal karena lebetulan di Tegal Alun belum ada jasa tukang sapu, hehehe.

Satu jam sebelum matahari tepat di atas kepala, kami mengucapkan selamat tinggal kepada Tegal Alun dan an bersiap menuruni gunung berjarak ratusan mdpl. Sepatu bertemu kembali dengan jalur beraneka rupa ala Gn. Papandayan. Dan nampaknya alas sepatu saya sudah mulai terbuka. Jalur yang kami lalui tidak terlalu jauh berbeda. Hanya ada beberapa jalur cepat dan nyaman yang kami pilih dari sebelumnya. Tali-tali rafia yang terikat di pohon mulai memulihkan ingatan kami untuk pulang ke Camp David.

Tak lupa juga kami sekali lagi mengabadikan momen-momen indah di setiap jejak yang sudah kami lalui di Gn. Papandayan. Mulai dari Pondok Saladah, Hutan Mati, bukit, sungai, dan kawah. Terimakasih kepada Tuhan karena telah memberikan cuaca yang begitu cerah selama kami melalukan pendakian ke Papandayan. Selain itu, keberanian untuk kami berkemah di Tegal Alun. Meskipun kami tidak sampai puncak, saya sudah merasa puas bisa menikmati indahnya Tegal Alun. Bukan karena cepat merasa puas tapi karena resiko yang cukup besar untuk bisa summit tanpa ada petunjuk yang jelas. Berkenalan dengan teman-teman baru menjadi salah satu hal yang sukai ketika mendaki gunung. Nampaknya kali ini, Gn. Papandayan berhasil meluluhkan hati saya dengan harta terpendamnya.

Sampai Jumpa Tegal Alun








Biaya Angkutan Menuju Kp. Rambutan - Camp David:
-Bis Kp. Rambutan/Pasar Rebo - Garut Rp 33.000,-
-Carter Angkot Terminal Garut-Desa Cisurupan Rp 110.000,- (7 orang)
-Desa Cisurupan- Camp David Rp 10.000,-
-Retribusi Camp David Rp 3.000,-

Selasa, 18 Oktober 2011

Gede Pangrango : Mau dong...

14-16 Oktober 2011 (adventure)

"Mungkin kita bukan yang pertama tapi momen ini akan jadi yang pertama untuk mengenal masing-masing kita demi mencapai satu tujuan, Puncak Gede Pangrango..."

 

Momen ini dimulai dengan pertemuan saya dan seorang lelaki di kursi bis Psr.Rebo-Cipanas. Baru saja saya duduk di sebelahnya, teman-teman yang duduk berbaris di belakang jok kami berteriak,"Dia homo kok...". Dalam hati saya,"kok alay banget ya ini anak-anak", kaya baru liat cewek aja, haha. Bis pun berjalan dan percakapan dimulai. Ternyata dia, sebut saja Aming, mempunyai tujuan yang sama seperti saya dan teman-teman menuju Cipanas, tempat dimana jalur Gn.Putri berada. Suatu keberuntungan bisa bertemu Aming dan teman-teman karena sesungguhnya saya dan kawan-kawan Suma belum ada yang begitu paham dengan jalur Gn.Putri. Waktu itu kami cuma berharap dengan lembaran-lembaran kertas yang isinya jalur dan waktu pendakian milik teman kami. Ngeliat kertasnya aja udah kaya mau ujian besok, haha.

Hampir 2 jam lebih berada di dalam bis, ya pokoknya sampe di Cipanas (cepetin dikit ya ceritanya). Sampailah kami di Cipanas, suhu udara sudah mulai berubah. Ternyata, jumlah anak-anak UIN (Aming n'friends) cukup banyak, mana jantan semua lagi, ngga ada yg awewe barang sebiji gitu. Nasib saya menjadi wanita paling cantik edisi perjalanan kali ini,hehe. Selanjutnya, kami pun melanjutkan perjalanan dengan menyewa angkot menuju TNGP Gn. Putri. Kami bermalam hingga subuh menjemput tubuh yang diselimuti dinginnya angin saat itu. Mau dong........

Langit pun mulai terang. Pagi itu, saya, lisan, ryan, dika, dan oky memutuskan untuk bergabung secara resmi dengan tim UIN yang diketuai oleh Asep alias Bolang (Anggota Arkadia). Perasaan ini cukup aman karena paling tidak ada 1 anak mapala yang bisa memimpin perjalanan. Inilah anggota tim UIN : Asep, Aming, Fatih, Ipul, Gaston, Kwen, Ibenk, Seto. Kami semua bergabung dan resmi membentuk Grup PURPACALA (Pura-pura Pecinta Alam). Mantap !

Dengan doa dan niat besar di dalam hati ini, kami bersiap menuju target pertama... JAYA KENCANA!! (udah gede, salah lagi) SURYA KENCANA kalee...Pul ! haha. Baru saja beberapa menit kami melewati jalan setapak pinggir sawah, nafas mulai engap. Mungkin badan masih kaget dan pemanasan kurang. Pemanasan pake rokok sih... haha.

Beberapa jam kemudian....

"Bisa biasa aja ngga sih tanjakannya!" terucap dari bibir ini yang kayanya udah pengen diantup lebah hutan yang juga ngga santai beterbangan. "Gue mending dipukulin polisi bedarah-darah deh, langsung slese..!" seru Seto yang nampaknya butuh truk gandeng buat narik badannya sampe Surken.

Perjalanan kian menanjak. Sudah tidak terhitung berapa kali kami beristirahat. Kami pun bertemu banyak pendaki-pendaki dengan umur yang beragam, mulai dari bocah kira-kira umur 6 tahun hingga ibu-ibu 40 tahunan. Wah, niat semakin semakin besar melihat umur kami yang masih muda dan... nampaknya umur bukan jaminan, haha. Ternyata tidak semua anggota tim Purpacala melakukan persiapan joging yang cukup untuk pendakian ini. "Bangun aja jam 11 siang, ga sempet joging.." hayo sapa ini yang ngomong hayo. Dari Coki-Coki sampe Madurasa dikonsumsi untuk menambah persediaan tenaga.


Pendakian melalui jalur Gn. Putri memang lebih cepat dibandingkan Cibodas tapi sekalinya nanjak panjang banget. Ga nahan coy, betis. Koyo mulai menjalar di beberapa bagian tubuh. Oia, ada satu barang yang belum disebutkan dari tadi, Kacamata Hitam, mamen. Kayanya ini aksesoris yang Penting Banget buat Gaston, Asep, Ibenk, Ipul selama pendakian.

 Wah, apalagi si Ipul, pendaki dengan aksesoris terbanyak. Mp3, BB, Headset, Kacamata, Topi, Aki (buat isi batre gadgetnya, haha). Ipul ini manusia paling aktif selama perjalanan. Aktif dan terampil mengeluarkan suara-suara teman sepergaulannya, Beruk. Wuuuuuukk....! Bunyi ini sangat penting untuk menjadi tanda dimana keberadaan anggota lain yang terpencar-pencar. Ibarat mobil, bacotnya Ipul tuh kaya mobil-mobil 4WD, haha.

"Istirahat dulu, makan.. ini ada nasi uduk, bakwan.." ucap salah satu penjual nasi uduk yang tawarannya tidak sama sekali menggoda kami. Kaki terasa bosan berpijak di akar-akar liar Gn. Putri. Tidak semua kami menggunakan sepatu treking. Ada yang pake sendal gunung, running shoes, dan sepatu kuliah (satu-satunya sepatu yang dimiliki, pasrah amat mas). Beberapa saat kemudian.. "Nasi uduk.. nasi uduk..". Saya, oky, lisan, dika, dan ryan pun menyerah dan sangat bernafsu untuk makan nasi uduk si akang. "Beli.. beli.. beli..". Astaga, nasi uduk paling datar sedunia akherat. Ya mau gimana lagi, adanya kaya gitu. Telornya tipis terus cuma 1/4 telor dadar aja pake bihun dan sambal dikit. Tapi biar secuil, perut juga nerima. Waktu itu posisi sudah dekat dengan Simpang Maleber. Dan kami pun menghabiskan nasi uduk beserta bakwan yang nampaknya memberikan secercah harapan untuk segera sampai di Surya Kencana.

Singkat cerita...

Kami berhasil mencapai padang edelweis yang saat itu cukup terik. Edelweis nampaknya tidak sedang bermekaran. Sejenak melepas carrier, berbaring sambil menunggu beberapa teman yang belum kunjung tiba. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi di bawah sana wahai Seto, Aming, Fatih, Kwen? Mereka tak kunjung datang. Asep mengajak untuk mencari tempat untuk berkemah.

Mata tidak lelahnya melihat sekeliling padang. Hati terobati dengan ciptaan Tuhan yang begitu indah di atas sini. "Kalo aja gue tinggal di bawah kaki gunung, tiap weekend gue main kesini kaya bocah-bocah yang denger-denger udah 11 kali ke Puncak Gede". Lama-lama jadi manusia akar deh tuh bocah-bocah, haha.
Spot kami berkemah terletak di balik semak-semak yang agaknya telah memberi kehangatan di malam minggu itu. Tiga kemah didirikan. Satu kemah kecil digunakan khusus untuk meletakan barang-barang saya dan kawan-kawan Suma, sekaligus menjadi tempat peristirahatan Oky (anak baru tidur sama barang dulu, anget loh). Suara angin dan kawan-kawan baru mulai bersahabat di telinga saya. Sambil memasak dan menikmati logistik masing-masing, celotehan "Mau dong" mulai dilempar satu-persatu. Adaaaaa aja yang di-Mau dong-in, haha. Fatih, chef tim UIN, terlihat setia memasak makanan untuk anak-anaknya. Macam warkop atau burjo (di Jawa) yang setia melayani pelanggan 24 jam. Dan Saudara Ipul mencoba untuk bercerita. Namun, nampaknya sangat gagal dan garing berat pokoknya. Tahun depan coba lagi ya, Pul.

Satu per satu kami mulai masuk ke dalam tenda, beristirahat menyimpan tenaga untuk perjalanan menuju Puncak Gede. Kami semua terlelap dan... Sunrise nampaknya sudah sangat rise kawan-kawan..haha. Semua terbangun lewat dari waktu yang ditentukan. Tapi besarnya niat untuk mencapai puncak tetap melekat di hati dan jiwa ini, lebay. Kami semua dengan cepat packing alat-alat kelompok dan pribadi.



Sinar matahari yang ditepis kabut memberikan kenikmatan tersendiri di pagi cerah Surken. Badan serasa ditusuk-tusuk dan muka berasa ditampar angin sejuk pagi itu. Kami pun merekam beberapa momen bersama di Surken. Tiga belas, bukanlah angka sial, jumlah tiga belas menjadi kekuatan untuk menggapai Puncak yang kami semua impikan. Setelah Asep memberikan pidato mujarabnya, kami menyatukan doa dan niat, dengan bersama meneriakan,"PURPACALA!" Berangkat...

Ibarat manusia bisa hidup tanpa oksigen, menuju puncak mustahil bila tidak ada jalur menanjak. "Baru jalan dikit aja udah engap, parah-parah" ucap Si Bolang, lelaki berkerudung biru yang mencari gadis berkerudung merah di Puncak Gede, hehe.

Dengan sekuat tenaga, sampailah di puncak. Selamat!
Saya sesaat terdiam dan mencoba menjawab pertanyaan yang sempat saya tanyakan ke Lisan,"Kenapa orang bisa suka naik gunung ya kalo nanjaknya aja menderita banget?". Memang cuma puncak yang bisa menjawab. Rasa bangga dan kebersamaan bercampur. Dika dan Ryan segera mengambil dslr-nya dan menjepret momen-momen indah kami semua. Tak ketinggalan, Fatih juga menjepret kawan-kawannya yang nampaknya sangat antusias terlihat dengan gaya Gaston yang bertelanjang dada, bercelana sobek-sobek, plus kacamata hitam andalannya..

Setelah puas jeprat-jepret dengan berbagai angle dan komposisi, kami bersiap menuruni puncak menuju kandang badak. Wah, Seto tersenyum lebar banget kayanya kalo turun. Turun tuh emang lebih enak jauh daripada naik, mau dong diturunin...


Persediaan air menipis. Saya sampai lupa minum atau ngga yah pas turun. Terakir minum pocari pas di puncak. Di kandang badak, Fatih buka lapak warkop lagi, hehe. Batre music gadget-nya Ipul masih aja nyala. Beneran pake aki nih kyanya. 'Kemana..kemana..." suara  "Ipulnya lagi nyari logistik di Bantargebang, yu". hahaha. parah-parah.

Botol-botol yang kosong terisi kembali. Cukup untuk masak dan persediaan air untuk turun.

Duh cowok-cowok penyakitnya emang di dengkul ya kalo turun. Makanya jangan cuma sehat fisik aja, mental juga dong, hahaha, sotoy. Sempat kami beristirahat di air panas untuk berendam dan mengisi perut. Semua logistik berat dikeluarkan. Kami makan bersama hasil masakan Fatih, Aming, dan Gaston. Wuidiiih.. mantap. Kentang pake sosis, kornet, sama indomi goreng dibagi bertiga belas. Setelah perut terisi kembali, kami kembali menuruni jalur cibodas.

Hari makin gelap sehingga langkah harus sedikit dipercepat. Kali ini Fatih yang bertugas membawa "Carrier Keramat UIN" yang sebelumnya lebih banyak digendong sama Asep. "Cepet..cepet..sampe yaampun, udahan", berbisik di dalam hati.


Alhamdulilah, Puji Tuhan, Awignamastu !

Kami sampai satu per satu di TNGP Cibodas. Lega banget rasanya bisa melihat kehidupan yang sesungguhnya bukan cuma hutan, batu,beserta akar-akarnya. Keringat yang mengucur pun mengering sesaat. Misi pun terselesaikan. Kami pun keluar dari TNGP Cibodas, menapaki jalan aspal pedesaan. Malam Senin ini, kami habiskan dengan makan bersama di rumah makan yang sudah menjadi langganan Fatih dan Asep, yaitu Mang Iding.


Pesan Kesan untuk Anggota Purpacala dari UIN...

Asep : entah harus bahagia atau derita bawa carrier keramat hampir selama perjalanan naik lewat putri, udah biasalah ya sep, kan Arkadia, parah-parah..
Fatih : cocok punya istri yang ga bisa masak..
Aming : tempat duduk membawa berkah..
Gaston : denger-denger tasnya ransel tapi isinya air semua? Pantes air cepet abis, hehe
Kwen : galau mas...
Seto : mending dipukulin polisi drpd naik gunung, yakin?
Ibeng : joging kalo mau naik lain kali
Ipul : no comment-lah, hahaha

saya bersama tim UIN
Seto, Kwen, Gaston, Ipul, Ibenk, Fatih, Asep


saya bersama tim SUMA UI
Oky, Lisan, Ryan, Dika

foto oleh febrian alsah, fatihadi, stenisia, mahardhika