"Journey, it's not about where you go, where you stay, but how you enjoy it with or without friends. Be grateful" - Mine
Tampilkan postingan dengan label pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pantai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2012

Pulau Tidung: Suguhan Ironi Jembatan Cinta

Tidak begitu jauh dari Muara Angke, Pulau Tidung dapat diakses hanya dengan 2,5 jam perjalanan kapal. Ini kali kedua saya mengunjungi pulau di Kepulauan Seribu. Beberapa bulan lalu saya memilih pulau yang tidak padat penghuni bahkan bisa dikatakan sepi sekali. Kali ini Pulau Tidung justru begitu padat dengan rumah-rumah penduduk yang tinggal dan bekerja di sekitar pulau. Bisa dikatakan pulau ini merupakan salah satu destinasi teramai di antara pulau-pulau di Kepulauan Seribu.

Saat itu kapal yang saya tumpangi cukup padat. Kami memilih untuk duduk di dek atas. Kapal bergerak seiring dengan ombak-ombak kecil yang menggiring kapal ke tengah laut. Saya cukup terkejut saat sampai di Pulau Tidung. Ibarat artis yang dikerumuni fansnya. Pulau ini nampak seperti pasar sesaat semua kapal berlabuh dan para penumpang berhamburan turun di dermaga. Keadaan ini jauh berbeda dengan apa yang saya alami ketika tiba di Pulau Harapan beberapa bulan lalu. Sejujurnya, apa yang membuat pulau ini bisa menjadi begitu ramai? Mari kita tanyakan pada jembatan cinta yang menjadi lokasi favorit para wisatawan di Pulau Tidung.


Ya, Jembatan Cinta merupakan objek wisata favorit di Pulau Tidung. Untuk sampai di Jembatan Cinta, saya hanya menyewa sepeda dari penginapan. Dalam beberapa menit saja, saya sampai di lokasi Jembatan Cinta berada. Bagi kalian yang ingin mencoba kendaraan lain, Pulau Tidung menghadirkan becak motor atau bentor untuk menuju Jembatan Cinta atau mengelilingi pulau. Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan di pantai sekitar Jembatan Cinta antara lain, bermain voli pantai, banana boat, jet ski, melompat dari atas Jembatan Cinta, dan menyusuri Jembatan Cinta hingga ke Pulau Tidung Kecil.

Lompat dari Jembatan Cinta
Biaya untuk bermain banana boat hanya Rp 35.000/orang. Speed boat akan membawa banana boat Anda berputar sebanyak 2 kali kemudian badan akan terhempas dengan kasar ke laut. Tidak perlu takut tenggelam karena pelampung yang menempel di badan pasti akan menyelamatkan Anda. Jika ingin mencoba sensasi melompat setinggi 7 meter, silahkan coba melompat dari atas Jembatan Cinta. Momen ini cukup indah untuk diabadikan dengan jepretan lensa kamera. Beberapa teman saya mencoba dan badan mereka terasa sakit di beberapa bagian. Baiknya posisi saat melompat perlu diperhatikan agar badan tidak tersakiti.


Siang hari menuju sore, kami berjalan menyusuri Jembatan Cinta yang begitu buruk jika dilihat lebih dekat. Beberapa kali saya googling, saya tidak pernah mengetahui bahwa kenyataannya Jembatan Cinta memiliki sisi yang perlu diperhatikan. Saya pikir Jembatan Cinta merupakan icon wisata Pulau Tidung yang tidak boleh mati. Jembatan ini memang sudah didirikan bertahun-tahun untuk menghubungkan Tidung Besar dan Tidung Kecil. Pemerintah setempat seharusnya lebih serius menanggapi keadaan fisik Jembatan Cinta ini. Bagaimana tidak, ratusan pasang kaki wisatawan per hari atau saat weekend pasti menginjak jembatan tersebut. Kerusakan-kerusakan pada Jembatan Cinta ada baiknya cepat diantisipasi mengingat kenyamanan dan keselamatan para wisatawan yang menyusuri  jembatan ini. Jembatan kayu yang lebarnya standar tiga badan orang dewasa ini sepertinya tidak seromantis Jembatan Cinta yang sering terlihat di foto-foto landscape tangkapan kamera wisatawan. Layaknya gigi bolong yang tak terlihat di dalam mulut begitu pula Jembatan Cinta dengan kayu keropos yang hingga saat ini masih bertahan menunggu tangan-tangan membenahi diri mereka.

Kerusakan Jembatan Cinta, Pulau Tidung
Setelah mengunjungi Pulau Tidung Kecil, kami kembali ke penginapan. Malam harinya kami menikmati ikan bakar (dalam paket wisata disebut barbeque) yang sudah siap untuk disantap oleh rombongan kami. Jika jumlah anggota rombongan cukup banyak, acara tukar kado mungkin bisa menjadi inspirasi Anda untuk meramaikan malam terakir di Pulau Tidung. Anda juga bisa bermain kembang api jika sudah mempersiapkannya sebelum tiba di pulau ini. Larutnya malam membawa kami tertidur pulas hingga listrik mati membuat kami kepanasan di malam hari. Namun, saya tetap berusaha tidur sambil menanti waktu snorkeling esok pagi. 

Di Atas Jembatan Cinta
Acara Tukar Kado

Senin, 02 Juli 2012

#1 Pulau Sempu: Hai Hutan Binal!

januari 2010

Bagi saya, pengalaman traveling ke pantai yang begitu berkesan dan masih sangat terekam di memori ini adalah perjalanan menuju segara anakan di Pulau Sempu. Awalnya saya membayangkan kalau segara yang mirip dengan pantai ini berada di pinggir laut yang bisa kita hampiri dengan kapal lalu bisa langsung turun berenang di pantai. Bayangan ini pun berputar 180 derajat ketika saya tiba di Teluk Semut, lokasi pemberhentian kapal yang hanya saya tumpangi selama 10 menit dari Sendang Biru. Dengan kata lain, Teluk Semut merupakan pos perantara Pantai Sendang Biru dengan Pulau Sempu.

Langkah pun dimulai. Bayangan untuk tiba di pantai dan bisa langsung berenang pun berangsur surut. Perlahan langkah semakin berat. Saya dan teman-teman tersadar kalau sandal yang kami gunakan tidak sanggup terangkat kembali karena tanah yang kami pijak begitu lembek dan dalam. Alhasil, satu per satu dari kami merelakan sepasang kaki ini berkenalan dengan jalur trekking menuju Sempu. Hujan semalaman nampaknya telah mengakibatkan tanah hutan menjadi becek dan lembek. Hal ini semakin menyulitkan kami berjalan sekaligus menantang kami untuk lebih berkawan dengan alam.


Tak pernah terbayangkan oleh saya, ada pantai di balik hutan belantara seperti itu. Mungkin rombongan kami kurang beruntung saat itu karena mendapati jalur trekking yang tidak bersahabat.  Perasaan takut akan pacet atau binatang melata lainnya di hutan begitu meraung. Pikir saya, seberat inikah pergi ke sebuah pantai yang mungkin tidak akan seindah yang saya bayangkan.

1,2,3 jam berlalu.. Kaki sudah tidak lagi pandang bulu. Segala pijakan yang memungkinkan untuk diinjak, kami injak dengan penuh keyakinan. Akibat tekad yang begitu besar, beberapa dari kami ada yang tertusuk akar atau ranting kecil yang tertutup dengan tanah. Dan ini kali pertama saya melihat orang menangis di dalam hutan. Perasaan campur aduk terutama bingung harus berbuat apa. Saya hanya bisa berdoa supaya kaki ini bisa utuh hingga pulang kembali ke Jakarta.

Hutan menuju Pulau Sempu cukup sempit karena vegetasi alam cukup lebat. Beberapa pohon besar melintang menutupi jalur trekking. Akar-akar pohon besar menjalar menuruni gundukan tanah. Sesekali kami merangkak menapaki gundukan akar yang bergelombang. Untuk menambah semangat, senyuman pun sesekali dilemparkan meskipun kaki tercabik-cabik dan hati terkhianati dengan kesialan jalur trekking ini. 

Perlahan suara deburan air terdengar. Bau laut terhirup segarnya. Kaki pun terhipnotis secepat mungkin melangkah. Sampai-sampai saya lupa sama rombongan yang masih tertinggal di belakang. Yasudahlah.. Pasang gigi 5..!

Surga pun terbuka. Api neraka mulai mereda seketika melihat air hijau segara anakan dari sela-sela pohon di pinggir hutan. Hingga akirnya mata saya dihadapkan dengan segara anakan dibalik hutan dan Samudera Hindia, ini dia Pulau Sempu. Pulau yang dibatasi dengan tebing ini menjadi sebuah fenomena alam pantai terindah di timur Pulau Jawa. Pantai yang membuat penghuninya lupa akan adanya perkotaan dan kemacetan nun jauh disana. (bersambung ke #2 Pulau Sempu)


#2 Pulau Sempu: Hai Hujan Malam !

"Bak langit-langit dome yang dihiasi bintang-bintang, pemandangan Pulau Sempu malam itu mulai saling bertawar dengan perasaan hati yang terkhianati oleh suasana hutan belantara siang tadi.."

Tanpa kami sadari jam sudah menunjuk pukul 2 siang sesaat kami tiba di pulau ini. Dan tanpa kami sadari pula, empat jam waktu kami sudah terenggut di dalam hutan. Tiba saatnya kami bersantai sejenak mengistirahatkan sendi dan otot yang tegang. Kegiatan berenang di pantai baru akan dimulai (akhirnya). Kaki-kaki kami agaknya cepat atau lambat mengeruhkan air pantai menjadi kecoklat-coklatan. Ibarat pulang dari pasar masuk ke rumah yang baru saja dipel, seperti itulah kaki kami keluar dari hutan kemudian datang ke pantai.


Cuaca terik matahari membuat warna air segara kian menghijau. Meskipun berendam dengan cuaca seperti ini dapat membakar kulit, saya dengan cuek mengenakan celana cukup pendek dan kaos hitam agak ketat. Ikan-ikan kecil berenang di pojok-pojok segara dapat terlihat dengan jelas karena air segara yang begitu jernih.

Di tengah keasikan saya berendam, ada kabar yang seketika membuat galau hati ini. Jam kedatangan kami di Pulau Sempu terlalu siang,sedangkan kami masih perlu trekking lagi keluar hutan untuk kembali ke tujuan kami semula. Hal ini perlu dipertimbagkan mengingat kami tidak bisa berjalan di hutan tanpa ada penerangan. Dan yang paling membuat gundah adalah kami tidak membawa perlengkapan untuk menginap minimal tenda peristirahatan dan senter. Bahkan hanya sedikit yang membawa bekal perjalanan. Saat itu saya hanya membawa roti, biskuit, dan aqua 1 stengah liter. Pulau ini juga terbilang irit air tawar bahkan mustahil bisa bertemu sumber air tawar. Semakin galau, semakin kami mendaftarkan kekurangan-kekurangan yang kami miliki dan bahaya-bahaya yang mungkin kami hadapi apabila tetap nekad menyusuri hutan di malam hari. Akhirnya, hasil musyawarah sepakat memutuskan untuk menginap di Pulau Sempu dengan keterbatasan yang kami miliki.

Senja pun tiba. Beberapa pengunjung Pulau Sempu mengeluarkan peralatan camping-nya dan mulai menyalakan lampu minyak yang dibawanya. Di sudut lain, kami terpojok sambil berpikir apa yang harus kami perbuat. Satu per satu mulai bergerak mencari kayu-kayu bakar dari ranting-ranting pohon sambil menahan lapar perut ini. Salah seorang dari rombongan mencoba menghubungi orang di Sendang Biru untuk mengirimkan bala bantuan bagi kami kaum yang lemah dan sotoy ini. Sambil menunggu bantuan datang, kami mengumpulkan bekal yang ada di dalam tas dan memilih bekal mana yang bisa sementara menyumbat rasa lapar ini sebelum nasi bungkus datang. Sisa bekal disimpan di dalam tas untuk sarapan mini esok pagi. Berbagi biskuit malam itu penuh dengan perhitungan dan keikhlasan. Tiba-tiba teringat adegan Mr.Bean yang penuh perjungan hanya untuk makan sepotong roti dengan ikan super kecil. Sembari menunggu beberapa kamera memotret penampakan saya dengan rambut lepek dan muka berminyak. Ini hal yang paling membetekan ketika seusai berenang di laut kemudian rambut tidak tersentuh air tawar.


Malam semakin mengahampiri kami. Dan bintang-bintang di atas langit Pulau Sempu mulai menyapa bertebaran dengan indahnya. Dengan beralaskan sarung yang di-share bersama dua senior saya di atas pasir pantai, saya menyaksikan keindahan alam malam itu. Ini merupakan intermezzo terindah kala menunggu bala bantuan datang dari seberang sana. Bak langit-langit dome yang dihiasi bintang-bintang, pemandangan Pulau Sempu malam itu mulai saling bertawar dengan perasaan hati yang terkhianati oleh suasana hutan belantara siang tadi.

Akhirnya dua orang relawan (mas-mas) datang dari dalam hutan gelap membawakan kami tenda dan nasi bungkus. Saya tidak tahu apa isi nasi bungkus tersebut karena gelapnya malam dan ketidaksanggupan lagi untuk memprediksi daging yang saya makan. “Mungkin ayam, ya sepertinya ayam, agak pedes.” Yang penting kenyang.

Waktunya membuat api unggun dan tenda. Saat itu saya merasa buta sebuta-butanya bukan hanya karena tidak ada penerangan tetapi buta dengan cara membuat tenda dari terpal. Laki-laki mulai berpikir dan berpikir. Lebih tepatnya lagi mengakali bagaimana supaya terpal ini bisa menjadi tenda peristirahatan. Setelah 1 jam berlalu, tenda karya kami pun bediri dengan penuh keragu-raguan. Hahaha. Bagaimana tidak, tenda ini hanya diikatkan dengan pancang-pancang kayu seadanya. Yang penting jadi tenda dua sisi (tenda sesungguhnya 5 sisi).

Hanya rombongan perempuan yang dapat menikmati tidur di dalam tenda amatir kami. Dan laki-laki dengan jantannya tidur di atas pasir pantai. Sedikit demi sedikit mata kami terpejam. Malam dan angin menyatu sampai akhirnya kilat dan petir menyambangi Pulau Sempu. Titik-titik hujan membesar dan terjadilah hujan cukup lebat sehingga tenda yang kami bangun tidak cukup sanggup menahan perihnya angin yang menerpanya. Panik. Kami semua berusaha membubarkan diri dari tenda dan pantai yaitu dengan cara mengevakuasi rombongan ke tenda-tenda rombongan lain. Ini adalah cara terbaik yang kami pikir jauh lebih aman daripada bertahan dengan kemampuan kami sendiri. (bersambung ke #3 Pulau Sempu)

#3 Pulau Sempu: Hai Hewan Nakal !


Tibalah saya dan tiga teman lainnya di tempat pengungsian alias di bawah fly sheet yang terpancang di dahan-dahan pohon. Disitu ada beberapa laki-laki pemilik fly sheet, kompor gas kecil, dan panci berisi rebusan air. Indahnya melihat rebusan air dan teh celup yang siap diseduh dalam gelas plastik. Kami duduk dengan manis sekali malam itu. Sikap pemalu kami pun disapa ramah dengan segelas teh hangat dan sepiring mi goreng. Inilah hikmah dibalik ancaman. Entah bagaimana keadaan teman-teman di tenda-tenda evakuasi lainnya. Apakah mereka juga disapa dengan ramah seperti kami disini. Yang jelas saya sangat menikmati perbincangan basa-basi dengan mas-mas Jawa ini sambil memperhatikan kostum yang mereka kenakan. Saya pikir kostum mereka begitu hangat dan lengkap melindungi sekujur tubuh masing-masing. Kaos kaki, topi rajut, jaket, celana panjang. Di sisi lain, dresscode saya lebih into the wild daripada mereka, yaitu kaos, celana pendek, dan sandal jepit. Antara Into the wild dan into the hell beda tipis sih rasanya.

Malam terasa seabad berganti menjadi pagi. INGIN PULANG. Akibat kedatangan kami di tenda mas-mas ini, kami sedikit kurang menghabiskan persediaan air yang mereka miliki. Namun, akal cerdik kami tidak sebanding dengan yang mereka miliki. Air hujan yang tertapung di atas fly sheet dimasak dan jadilah teh manis. Hahaha. Yang penting sudah dimasak. Di sela-sela waktu berbincang, saya melihat ada beberapa binatang kecil putih berjalan di pasir pantai. Besarnya seperti nasi putih hanya saja mereka memiliki kaki. Hewan apakah itu?

Setelah hujan reda, kami kembali ke titik dimana tenda kami berdiri beberapa jam lalu. Kami berkumpul dan dengan cuek tidur di atas  pasir pantai lembab akibat hujan. Ada yang kedinginan karena baju basah kuyup, ada yang dinyamukin, ada yang gatel-gatel, dan sebagainya. Kami menyambut pagi dengan penuh keceriaan meskipun agak sedikit kaget dengan muka seorang teman yang merah seperti ditabok oleh lebah. Ternyata mukanya digigit nyamuk kemudian ia garuk hingga bisa membengkak seperti itu.

Kami merapikan barang-barang bawaan. Berfoto-foto sebentar dan berbagi roti sisa bekal.  Kami berdoa bersama dan bersiap menapaki kembali jejak-jejak yang kami tinggalkan kemarin di hutan. Dan tanah hutan pun lebih becek dan licin dari kemarin. Kalau kemarin kami menghabiskan waktu 4 jam, sekarang kami menghabiskan waktu 7 jam dari Pulau Sempu hingga Teluk Semut. Medan yang kami lewati terasa lebih berat untuk teman kami yang juga berbadan berat. Sesekali terpleset, tertawa, mengangis, dan terdiam kembali. Bahkan ada yang berpikir untuk menelpon tim Sar. Hahaha

Saya ingat sekali saat kami akhirnya sampai di Teluk Semut. Ada seorang laki-laki yang berkata kepada saya,”Mba, ini rombongan yang tadi pagi berangkat lebih pagi dari kami kan?”. Saya agak ragu menjawab karena tidak ingat dengan wajah laki-laki ini. Laki-laki itu pun berkata lagi,”Iya saya jalan setelah kalian sudah berjalan”. Dalam hati, “oke lo lebih cepat daripada gue, selesai”. Mungkin laki-laki itu terkejut dengan kedatangan kami yang jauh lebih lambat daripada dia. Ya memang kali ini rombongan kami kalah banyak tetapi kami tidak kalah dengan binalnya jalur trekking hutan dan Pulau Sempu yang cukup menguji fisik dan mental kami. Perjalanan Teluk Semut-Sendang Biru dilanjutkan selama 10 menit. Berat hati meninggalkan Pulau Sempu tetapi tak apa lain kali kesana lagi mungkin dengan orang yang berbeda dan tentunya cuaca lebih baik. Saya dan teman-teman kembali ke Jakarta.

Dan beberapa hari kemudian, timbul bintik-bintik merah di sekujur kaki saya seperti bentol-bentol yang dahsyat sekali gatalnya. Balsem panas sampai bedak gatal saya pakai untuk mengurangi rasa gatal. Saya menyerah dan pergi ke dokter untuk mengobati kaki yang sudah buruk rupa ini. Dokter pun memberikan salep gatal yang cukup ampuh mengurangi bintik-bintik merah tersebut. Ternyata beberapa teman juga mengalami hal yang sama seperti saya. Dan saya pun tersadar bahwa hewan-hewan nasi berkaki itu adalah penyebab penyakit ini. Hewan ini memang hidup di pantai tidak hanya di Pulau Sempu tetapi beberapa pantai lainnya. Dan hewan ini berpotensi menggigit tanpa ada rasa apapun meskipun akhirnya menyebabkan rasa gatal yang amat sangat. Terimakasih untuk kutu babi yang telah memberikan oleh-oleh dari Pulau Sempu ! 


Rabu, 04 April 2012

Bangka & Belitung: First Impression!

Hal yang biasa ditemukan ketika kita menunjungi pantai adalah taburan pasir putih/hitam, gradasi pantai biru kehijau-hijauan, tumpukan karang-karang (jika pantainya berkarang), dan jejeran pohon kelapa. Mungkin ada satu hal yang tidak menjadi biasa dijumpai di pantai tetapi justru sangat sering dijumpai di pantai-pantai Bangka dan Belitung. Keajaiban ini begitu melimpah menghiasi sudut dan sisi pantai di Bangka dan Belitung. Keajaiban inilah yang memberikan anugerah pemandangan yang begitu mengagumkan setiap mata yang melihatnya. Kekaguman itu pun terucap ketika melihat langsung bongkahan batu-batu granit yang  menghampar di pantai-pantai Bangka dan Belitung bak Kerajaan Granit megah yang menguasai pantai-pantai tersebut.

Pantai Parai, Bangka


Hamparan batu-batu granit dapat dilihat di beberapa pantai seperti Pantai Parai di Bangka, Pantai Tanjung Kelayang dan Pantai Tanjung Tinggi di Belitung. Batu granit ini tidak menghampar layaknya padi di sawah tetapi mengelompok di beberapa sudut pantai. Jika garis pantainya panjang dan melengkung sedikit ke dalam seperti Parai di Bangka,  bongkahan batu-batu granit akan tetap ada sampai di bagian garis lengkungan pantai bahkan menumpuk dengan ukuran yang beragam. Batu granit pun  berwarna lebih tua dibanding di pinggir pantai bagian depan resort.

Berbeda dengan Tanjung Kelayang yang memiliki dua sisi pantai depan belakang, batu granit tidak muncul di pinggir pantai bagian depan tetapi justru berkerumun di bagian belakang pantai. Batu-batu ini membujur ke arah Pulau Lengkuas. Pemandangan bagian belakang Tanjung Kelayang bagaikan taman batu granit yang tidak bisa dibeli dan dibawa pulang ke rumah. Batu granit di Tanjung Kelayang terlihat lebih lebar-lebar, berwarna abu-abu terang sehingga pantai ini terlihat lebih terang dibanding dengan pantai sebelumnya. Pemandangan Pantai Tanjung Kelayang di sisi belakang seperti taman batu granit yang bersembunyi di tengah kesunyian menyimpan harta karunnya.


Tanjung Kelayang, Belitung


Tanjung Tinggi, Belitung


Lain pula dengan suasana yang didapatkan di Pantai Tanjung Tinggi, Belitung. Mungkin pantai ini menjadi pantai teramai dari ketiga pantai tersebut. Pantai ini menjadi begitu terkenal setelah tim Laskar Pelangi menjadikannya sebagai salah satu lokasi syuting dari film ini. Tanjung Tinggi memiliki beberapa batu-batu granit yang cukup tinggi  dibanding dengan kedua pantai sebelumnya. Uniknya, batu-batu granit di pantai ini berbentuk seperti gunung-gunung kecil yang dapat didaki hanya dalam beberapa detik. Warna dan tekstur batunya lebih gelap dan licin akibat lumut yang menempel di badan batu.

Tidak menjadi sulit untuk menemukan batu-batu granit megah nan cantik di sekitar pantai di Bangka dan Belitung. Ukurannya cukup membelalakan mata kita ketika pertama kali melihatnya. Perlu belasan atau bahkan puluhan orang untuk bisa memeluk batu-batu granit ini. Namun, ada juga yang hanya berukuran kecil bahkan setengah terendam di dalam air. Batu-batu granit di Pantai Parai, Pantai Tanjung Kelayang, dan Pantai Tanjung Tinggi mencuri perhatian  mata sesaat kita bersantai menikmati kemegahan dan kecantikannya. Sungguh..


foto: febrian alsah

Sabtu, 14 Januari 2012

Pulau Perak: Speechless!

september 2011


Destinasi wisata di Jakarta memang kurang beragam. Satu-satunya kawasan pantai terdekat yang bisa dikunjungi oleh orang-orang Jakarta adalah Pantai Ancol. Namun, sebenarnya tidak jauh dari Jakarta, kita juga dapat menikmati wisata pantai yang cukup menarik, yaitu di Kepulauan Seribu. Kenyataannya, Kepulauan Seribu tidak terdiri dari 1000 pulau tetapi hanya kurang lebih 200 pulau yang tidak semuanya berpenghuni. Perjalanan weekend kali ini, saya berkesempatan untuk menghabiskan waktu di Pulau Perak bersama beberapa teman-teman tercinta.


Singkat cerita, perjalanan dimulai dari Muara Angke, tempat kami bisa menumpangi kapal dolpin untuk menuju Pulau Harapan. Nantinya, dari Pulau Harapan, kami harus menyewa kapal lagi untuk menuju Pulau Perak. Kurang lebih 2 jam, kami tiba di P.Harapan. Sebelum menlanjutkan perjalanan, kami mengisi perut terlebih dahulu dengan nasi goreng yang bisa dibeli meskipun harus berjalan agak jauh dari pelabuhan. Jika ingin snorkeling, alat snorkeling dan jaket pelampung bisa disewa di pulau ini dan dibawa ke pulau tujuan kita nantinya. Setelah perut terisi dan perlengkapan snorkeling siap, kami menyewa sebuah kapal bermuatan 10-13 orang untuk menghantarkan kami ke P.Perak.


Tiba di P.Perak, kami mendirikan tenda. Kami memang sudah membawa perlengkapan tenda dan bekal secukupnya untuk makan mulai dari siang hingga keesokan paginya. Tentunya, tidur dengan fasilitas tenda ini tidak akan pernah ada dalam paket perjalanan yang biasa dibuat untuk menginap di kepulauan seribu pada umumnya. Jadi saya beruntung mempunyai teman-teman yang juga berjiwa petualang di alam bebas. Kami juga membawa kompor gas kecil, nesting, peralatan makan plastik, dan peralatan masak secukupnya.

Matahari terik mulai membakar kulit muka saya yang akhirnya meninggalkan bekas kemerah-merahan terutama di bagian hidung dan pipi. Dengan google, fin, dan pelampung, saya mulai ber-snorkeling. Ini ketiga kalinya saya snorkeling yang sebelumnya snorkeling di Bunaken dan Gili Lombok. Pak Ayang, pemilik perahu, membawa kami ke daerah tidak begitu jauh dari P.Perak untuk melihat indahnya bawah air kepulauan seribu. Dengan googles, fin, dan pelampung, saya mulai ber-snorkeling. Pantai dengan pasir putih memang lebih mengangumkan di pandangan mata dibanding pantai dengan pasir hitam, seperti Pantai Ancol. Sedikit banyak, saya berbincang dengan Pak Ayang yang juga berprofesi sebagai nelayan. Ia menjelaskan bahwa banyak pulau yang dibeli oleh masyarakat keturunan Cina yang biasanya digunakan untuk membuat resort, usaha perikanan, atau tujuan-tujuan tertentu lainnya. Saya jadi bermimpi ingin membeli salah satu pulau di kepulauan seribu ini.






Setelah snorkeling, kami beristirahat dekat tenda yang sudah kami dirikan sebelumnya. Beberapa dari kami mempersiapkan makan malam, kayu bakar untuk api unggun, dan yang lainnya pergi membilas badan. Ada hal-hal seru yang kami temukan selama berkempig di P.Perak. Seperti yang kami ketahui sebelumnya melalui beberapa informasi dari internet, P. Perak memang tidak memiliki fasilitas kamar mandi khusus bagi siapapun yang ingin menginap di Pulau ini. Jadi kami pun harus bekerjasama untuk mengambil air dengan cara menarik ember dengan tali dari dalam sumur sejauh 2 meter lebih.

Suasana malam hari di P. Perak begitu nikmat dengan ditemani api unggun dan matras di atas pasir pantai. Sambil berbaring di atas matras, saya menatap langit yang bertaburan bintang-bintang. Angin laut semilir-semilir menenangkan hati. Waktu malam hai kami habiskan dengan makan malam dan bermain kartu. Ketika kami sedang bersantai-santai, tiba-tiba beberapa orang yang tinggal di pulau ini mendatangi kami. Ternyata mereka memberitahukan bahwa letak tenda kami berkemping dekat dengan makam warga P.Perak. Seorang bapak juga memberi pesan kepada kami untuk menjaga diri satu dengan yang lain karena sempat ada wisatawan yang tidak sadarkan diri berjalan ke arah laut di malam hari. Kami adalah rombongan kedua yang berkemping di belakang  P.Perak dekat dengan makam tersebut. Rombongan pertamanya adalah bule-bule. Hari semakin malam, mata semakin mengantuk, kami semua tertidur pulas hingga matahari terbit menyapa dengan wajahnya yang oranye keemasan. Sunrise…!


Snorkeling, berkemping, memasak makanan sendiri, berapi unggun, dan melihat sunrise memberikan kenikmatan tersendiri bagi saya dan teman-teman selama 2 hari 1 malam di Pulau Perak, Kepulauan Seribu.