"Journey, it's not about where you go, where you stay, but how you enjoy it with or without friends. Be grateful" - Mine
Tampilkan postingan dengan label inspiration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspiration. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Agustus 2012

Sweet

Saya lupa kalau sebentar lagi akan ada hari besar yang sudah saya tunggu-tunggu kedatangannya sejak Januari awal tahun 2012. Saat itu, saya betul-betul bertekad mengambil langkah menulis karya akhir menuju pintu kelulusan perkuliahan. Ini benar-benar jauh dari prediksi saya. Lulus dengan non-skripsi sebenarnya impian saya dahulu. Tapi entah kenapa, berubah 180 derajat. Januari lalu saya yang masih luntang-lantung di kampung halaman Maluku Utara sana, was-was mencari topik dan bahasan yang pas untuk skripsi.

Singkat cerita, beberapa bulan ini, betul-betul proses yang membuat diri ini haus akan traveling. Penatnya bukan main. Pegal linu di bagian pinggang, pundak, dan sekitarnya. Pikiran yang tidak pernah berhenti dari ide-ide baru yang belum diungkapkan dalam tulisan atau pun ide lama yang perlu dirombak. Waktu itu memang cuma kertas, buku, internet, dan kasur jadi teman favorit.

Memang benar, "Semua indah pada waktunya..". Perjalanan menjadi anak Sastra Inggris dan menulis skripsi  tidak pernah terpikirkan oleh saya. Tetapi semua itu yang dikehendaki oleh-Nya untuk terjadi. Bersyukur sekali bisa punya semua teman-teman perkuliahan yang menyenangkan, teman jalan-jalan yang tidak pantang menyerah, teman-teman nyampah banget, dan teman-teman jenis lainnya. hehehe (bukan copy paste dari kata pengantar skripsi)

Terlalu banyak hal kecil maupun besar yang saya inginkan tetapi Tuhan berikan hal lain yang bahkan lebih berharga daripada yang saya inginkan selama saya kuliah. 

Saya segera wisuda dan sepertinya jalan-jalan gratis ke Bangkok dan Pattaya ini merupakan kado wisuda saya dari Tuhan. Thanks God...

SELAMAT BERLIBUR!!! 

Don't forget to pray, jangan mengeluh, kalau jodoh ngga kemana, hahaha

Cheers,

STENISIA S, Hum

Selasa, 12 Juni 2012

Will God save you?

One day, a man was jumping into water.
An a boat come by and said, "Did you need help?" He said, "No, thank you. God would save me!"
Then, another boat came by... and said,"You need a help?"
He said,"No thank you. God would save me!"
Finally, the man was drowning, and he was in Heaven.
And he asked to God, "God.. why did you not save me?"
God said, "I sent you two big boats, you dumby!"

by Jayden Smith - Pursuit of Happiness (2006)

Rabu, 18 April 2012

Life Starts Here

Lets call on the interested 
The wide eyed 
The hopeful 
The princesses
And the princes 
Their believer
Lets some on the generals 
The queens,
The kings,
and The knights start ride adventures trail 
Lets call on The ledgers 
The lovers 
The big ones 
The small ones
The boundaries 
The attendance 
Discoverers
The conductor
The scientist 
The CEO’s 
lets call on the Sky walkers 
The movers 
The shakers 
Lets call on the curious And bring on the hope
LIFE STARTS HERE

Selasa, 29 November 2011

 Aku Ingin

Komposisi : AGS Arya Dipayana
Gitar : Umar Muslim
Violin : Henri Lamiri
Vokal : Reda
 
oleh Sapardi Djoko Damono,

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Rabu, 19 Oktober 2011

Mencuri Informasi di Kantor Redaksi NGI !

 Jumat, 30 September 2011, saya bersama teman-teman Suara Mahasiswa UI berkunjung ke kantor Redaksi National Geographic Indonesia. Dalam rangka acara Klinik Jurnalistik, kami mengadakan kunjungan ini untuk berbagi pengalaman dan melihat cara redaksi NG bekerja dalam membuat sebuah liputan. Di sana kami dikumpulkan dalam ruang rapat redaksi yang tidak terlalu besar untuk menampung peserta juga panitia yang terlampau banyak. Beberapa panitia pun bersedia untuk menunggu di luar ruangan sampai sesi bincang-bincang dengan redaksi pun selesai.

Mas Firman Firdaus, yang akrab disapa Mas Daus mulai mempresentasikan latar belakang NG hadir di Indonesia dan produk-produk NG yang diterbitkan untuk masyarakat Indonesia. Banyak masyarakat menganggap bahwa NGI ini berkaitan atau bersumber dari National Geographic Channel. Padahal sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan produk majalah NG yang beredar di Indonesia. Redaksi NGI memiliki beberapa produk yaitu Majalah National Geographic Indonesia, Majalah National Geographic Traveller, website nationalgeographic.co.id, dan fotokita.net.

Untuk majalah NGI sendiri dikerjakan hanya 20% redaksi NGI, sedangkan 80% hasil terjemahan dari NG luar negeri. Hal ini terjadi karena tim redaksi NGI belum dapat sepenuhnya melakukan riset untuk semua liputan dalam majalah NG dengan alasan waktu dan tenaga. Untuk majalah NG Traveller, bisa dikatakan sepenuhnya dikerjakan oleh redaksi NG Traveller Indonesia.

Setelah berbincang-bincang dalam ruang rapat redaksi, Mas Purwo (Alumni Suara Mahasiswa UI) memimpin kita untuk berkunjung ke ruang kerja redaksi NG. Disini peserta dan panitia bisa berinteraksi langsung dengan para redaksi dan mewawancarai seputar kerja redaksi. Kebetulan saya tidak banyak berputar-putar di ruangan ini karena jumlah peserta dan panitia ternyata tidak berbanding lurus dengan luas ruang redaksi NG. Seketika ruangan menjadi penuh dan agak susah untuk berkeliling ke se semua meja kerja redaksi. Saya memilih untuk stay di satu meja kerja redaksi yang dimiliki oleh seorang wanita dengan jabatan Text Editor, yaitu Christantiowati.

Yang membuat saya tercengang dalam hati ketika awal berkenalan dengan Mba Chris adalah beliau lulusan Ilmu Perpustakaan FIB UI. Lagi-lagi saya menyadari bahwa apa yang kita pelajari di kampus belum tentu akan sepenuhnya dapat disalurkan dalam pekerjaan. Mungkin passion Mba Chris memang menulis dan bukan berarti hanya mahasiswa sastra saja yang pandai menulis. Ia bercerita singkat mengenai pengalamannya dalam menulis. Awalnya Ia hanya mempublish iseng-iseng tulisannya di rubrik surat pembaca atau kolom untuk pembaca di majalah. Kemudian ia mulai menjadi penulis tetap di Intisari, Kompas, dan kemudian  Majalah NG.

Tak lupa saya juga bertanya-tanya dengan hobi  Mba Chris yaitu diving. Dia bercerita bahwa hobi diving-nya dimulai karena tuntutan pekerjaan. Waktu itu ada salah satu atasannya yang membutuhkan penulis yang juga bisa diving. Saat itu, umur Mba Chris sudah menginjak angka 30 tahun, dan disitulah ia baru mulai belajar diving. Ternyata, Mba Chris pun tidak begitu pandai dalam berenang. Les renang dan diving diambil oleh Mba Chris demi memenuhi persyaratan pengambilan lisensi diving. Akhirnya, selama 1 tahun, ia berhasil mendapatkan dua lisensi diving yaitu beginner dari POSSI dan advanced dari PADI.

Saya pun semakin iri melihat kartu sim divingnya yang dikeluarkan dari dompetnya (dalam hati, di dompet saya cuma ada Matahari club, hehe). Wanita yang sudah berpetualang dari Aceh - Sorong ini berpesan bahwa selama ada waktu, kesempatan, dan uang, gali keterampilan yang kita punya, karena pada nanti keterampilan itu sangat mendukung dalam pekerjaan.

Entah kenapa kaki saya ini tidak ingin beranjak dari meja kerja Mba Chris yang dikelilingi dengan foto-foto diving berukuran 3R. Foto-foto tersebut tertempel melingkar di sekat meja kerjanya. Saya juga tidak kehabisan akal untuk menggali banyak informasi dari Mba Chris. Dia pun berbagi pengalaman selama ia liputan di beberapa suku pedalaman seperti salah satunya Suku Rimba.

Di Rimba, fotografer dilarang untuk memotret perempuan karena menurut kepercayaan adat Rimba, nilai perempuan tersebut akan jatuh. Maka dari itu, ada baiknya mendapatkan riset sebelum pergi ke suku-suku pedalaman yang benar-benar jelas dan dapat dipercaya. Selain itu, ia juga berpesan untuk siapapun yang ingin berkunjung ke daerah-daerah pedalaman, ada baiknya pada hari pertama, kita tidak melakukan apapun terutama memotret. Hal ini dilakukan untuk beradaptasi terlebih dahulu dengan lingkungan dan masyarakat yang ada. Siapa tahu ada lokasi-lokasi dan objek yang tidak diperbolehkan untuk dikunjungi atau dipotret.

Bukan berarti menjadi penulis majalah travelling itu mudah. Mba Chris berkata bahwa mereka harus banyak membaca dan bisa pintar dalam mengatur waktu yang disediakan oleh redaksi untuk sebuah liputan. Untuk liputan ke daerah Nias, Mba Chris menghabiskan banyak waktu untuk membaca buku-buku tentang Nias yang tebalnya ngga ketulungan itu. Langkah ini diambil untuk bisa mendapatkan informasi yang valid dan mengurangi resiko kesalahan di lapangan. Untuk waktu peliputan, masing-masing tim diberikan waktu 2 minggu. Ia juga bercerita bahwa tidak selamanya prediksi kita benar ketika sampai di lapangan. Bisa jadi ombak lebih besar atau Burung Maleo belum bisa bertelur di malam itu. Maka dari itu, waktu peliputan bisa diundur.

Ketika saya bertanya bawah laut mana yang paling keren selama Mba Chris diving, lagi-lagi dua kata itu terucap, “Raja Ampat!”. Niat untuk bisa pandai berenang dan diving benar-benar mengguncang hati dan pikiran saya. Sesaat sebelum berpisah dengan Mba Chris, ia memberikan alamat belajar diving dan sebuah CD berjudul “Reef Check”. Tak lupa ia juga membagikan kartu nama dan berpesan kalo mau tanya-tanya bisa melalui e-mail karena dia tidak terlalu aktif di media sosial lainnya.

Waktu untuk bermain di ruang redaksi National Geographic pun berakhir. Walaupun saya hanya berhasil berbincang-bincang cukup dalam dengan salah satu redaksi NG, saya merasa bahwa menjadi penulis traveling itu bukan sekedar gaya dan bisa jalan-jalan. Tidak hanya traveller writer tapi juga semua penulis harus mempunyai point of view dan mengangkat isu yang mungkin belum banyak disadari oleh masyarakat luas. 

Tiba-tiba saya pun teringat kenapa baru beberapa tahun terakhir ini Raja Ampat terkenal? Siapa sebenarnya yang pertama kali mengguncangkan Raja Ampat sebagai destinasi pariwisata di Indonesia? dan kenapa Bali bisa tenar sekali di mata dunia? Jawabannya : Baca buku. Pertanyaannya, udah ada belum buku yang menceritakan hal-hal diatas? Mungkin masih terlalu banyak buku-buku traveling dan pariwisata yang hanya membahas rute perjalanan bukan lebih ke isu bagaimana parawisata di sebuah daerah bisa berkembang, baik dari segi Sumber Daya Alam ataupun Sumber Daya Manusia. 

Minggu, 14 Agustus 2011

Jumat, 12 Agustus 2011

Creative Stop Motion

Beribu-ribu foto dan video dibutuhkan untuk membuat Stop motion di bawah ini. Cocok menginspirasi orang-orang yang malas untuk berpikir kreatif. Diperlukan niat yang besar untuk membuat sebuah stop motion. Check it out ! They are best stop motions that I've ever seen..


PEN STORY (Olympus)

PEN GIANT (Olympus)





Coldplay "Every Tears Drop Is Waterfall"

ngga cuma lagunya bagus, video klipnya juga niat, COLDPALY is COOL !





I TURN THE MUSIC UP, I GOT MY RECORDS ON
I SHUT THE WORLD OUTSIDE UNTIL THE LIGHTS COME ON
MAYBE THE STREETS ALIGHT, MAYBE THE TREES ARE GONE
I FEEL MY HEART START BEATING TO MY FAVOURITE SONG

AND ALL THE KIDS THEY DANCE, ALL THE KIDS ALL NIGHT
UNTIL MONDAY MORNING FEELS ANOTHER LIFE
I TURN THE MUSIC UP
I'M ON A ROLL THIS TIME
AND HEAVEN IS IN SIGHT

I TURN THE MUSIC UP, I GOT MY RECORDS ON
FROM UNDERNEATH THE RUBBLE SING A REBEL SONG
DON'T WANT TO SEE ANOTHER GENERATION DROP
I'D RATHER BE A COMMA THAN A FULL STOP

MAYBE I'M IN THE BLACK, MAYBE I'M ON MY KNEES
MAYBE I'M IN THE GAP BETWEEN THE TWO TRAPEZES
BUT MY HEART IS BEATING AND MY PULSES START
CATHEDRALS IN MY HEART

AND WE SAW OH THIS LIGHT I SWEAR YOU, EMERGE BLINKING INTO
TO TELL ME IT'S ALRIGHT
AS WE SOAR WALLS, EVERY SIREN IS A SYMPHONY

AND EVERY TEAR'S A WATERFALL
IS A WATERFALL
OH
IS A WATERFALL
OH OH OH
IS A IS A WATERFALL
EVERY TEAR
IS A WATERFALL
OH OH OH

SO YOU CAN HURT, HURT ME BAD
BUT STILL I'LL RAISE THE FLAG

OH
IT WAS A WA WA WA WA WA-ATERFALL
A WA WA WA WA WA-ATERFALL

EVERY TEAR
EVERY TEAR
EVERY TEARDROP IS A WATERFALL

EVERY TEAR
EVERY TEAR
EVERY TEARDROP IS A WATERFALL

Senin, 25 Juli 2011

oleh Payung Teduh

Cerita Tentang Gunung dan Laut (lirik : Ketjak, lagu : Is)
Is (vocalis)


Aku pernah berjalan di atas bukit
Tak ada air
tak ada rumput
Tanah terlalu kering untuk ditapaki
Panas selalu menghantam kaki dan kepalaku

Aku pernah berjalan di atas laut
Tak ada tanah
tak ada batu
Air selalu merayu
menggodaku
masuk ke dalam pelukannya

Tak perlu tertawa atau menangis
pada gunung dan laut
Karena gunung dan laut tak punya rasa

Aku tak pernah melihat gunung menangis
Biarpun matahari membakar tubuhnya
Aku tak pernah melihat laut tertawa
Biarpun kesejukan bersama tariannya





Resah (lirik : Ketjak, lagu : Is)


Aku ingin berjalan bersamamu 
Dalam hujan dan malam gelap
 
Tapi aku tak bisa melihat matamu


Aku ingin berdua denganmu 
Di antara daun gugur
 
Aku ingin berdua denganmu
 
Tapi aku hanya melihat keresahanmu
 

Aku menunggu dengan sabar di atas sini
 
melayang-layang

tergoyang angin, menantikan tubuh itu





Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan  (lirik & lagu : Is) 


Tak terasa gelap pun jatuh
Di ujung malam menuju pagi yang
dingin
Hanya ada sedikit bintang malam ini
Mungkin karena kau sedang
cantik-cantiknya

Lalu mataku merasa malu
Semakin dalam, ia malu kali ini
Kadang juga ia takut tatkala harus
berpapasan di tengah pelariannya
Di malam hari menuju pagi
Sedikit cemas banyak rindunya

500 days of Summer

Ngga tau kenapa, ini jadi salah satu film cecintaan favorit gw. Padahal banyak yg bilang ceweknya brengsek, haha. Zooey Deschannel cantik banget sih disini.. siapa coba yang ngga tertarik. Tapi kasian sih cowoknya udah dibuat terlalu banyak berharap sama Zooey. It's real man...
Zooey nyanyi pas ada acara bareng di Bar

Ini pertama kalinya mereka ketemu di Lift

Disini udah mulai deket

Mata indah Zooey

Cuma ada di imajinasi tokoh cowok (kasian deh)

Mereka cool dan cantik, like this !



Sabtu, 23 Juli 2011

Minggu, 17 Juli 2011

akibat teknologi




 


 Kadang kita berkumpul di satu tempat bersama orang yang kita sayangi tapi kita semua sibuk sendiri dengan dunia masing-masing. Walaupun orang-orang di sekeliling kita udah nganggep itu biasa, sebenarnya mereka ingin kita juga bisa berbicara dengan mereka. Kita hidup tapi tak beraga.


kreatifitas hidup untuk dikembangkan bukan didiamkan. UNICEF : "Liat Begitu Hidupnya Mereka Saat Layar Dimatikan"