"Journey, it's not about where you go, where you stay, but how you enjoy it with or without friends. Be grateful" - Mine
Tampilkan postingan dengan label thailand. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thailand. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2012

Thailand: Tips Berkomunikasi dengan Orang Thai

Seperti kita ketahui, bahasa Thailand tidak ditulis dengan huruf latin. Hurufnya kurang lebih seperti huruf-huruf sansekerta yang keriting-keriting itu. Kebanyakan orang asing akan merasa tersiksa melihat petunjuk-petunjuk jalan yang nama jalannya ditulis dengan huruf-huruf sansekerta. Itulah yang saya rasakan ketika bekerja di Thailand selama dua minggu. Mau kemana-mana susah. Mau tidak mau, harus betul-betul tau nama jalan yang kita tuju terutama ketika menumpang kendaraan umum, seperti bus, taksi, tuk-tuk atau ojeg.

Tiket Perahu dari Dynasty Hotel-Pratunam 20 baht
Bagaimana kalau mau belanja di Thailand? Jangan samakan hidup belanja di Thailand dengan Singapur karena tidak semua penjual baju, makanan, atau minuman bisa berbicara bahasa Inggris. Keahlian berbahasa inggris orang Thai cukup lemah. Namun, beberapa penjual mengerti angka-angka dalam bahasa Inggris untuk menjual barang mereka. Tapi jangan panjang-panjang juga berbicara bahasa Inggris dengan mereka. Dijamin ngga ngerti. Sebenarnya sama aja kaya kita yang mungkin hanya ngerti sedikit angka dalam bahasa Thailand tapi tidak mengerti kalau si penjual nyerocos panjang udah kaya senjata perang.

Lalu gimana menghadapi kenyataan ketidaklakuan huruf latin dan bahasa Inggris di Thailand? Sedikit tips cara berkomunikasi dengan orang Thai untuk kalian yang ingin berlibur ke Thailand.

1. Sapaan dan Terimakasih 
Orang Thai terkenal dengan keramahannya karena mereka selalu menyapa dengan sapaan khas mereka. Semua sapaan selamat dari pagi hingga malam atau selama datang disamakan semuanya dalam bahasa Thailand, yaitu "Sawadee Kaa" (perempuan) dan "Sawadee Kap" (laki-laki). Perempuan selalu menggunakan akhiran -Kaa sedangkan laki-laki selalu menggunakan akhiran -Kap. Begitu pula dengan ucapan Terima Kasih bahasa Thailand. Laki-laki berkata,"Kop Khun Kap" sedangakan perempuan berkata,"Kop Khun Kaa". Dan orang Thailand kalau bilang "Iya" cukup berkata "Kaa!" atau "Kap!"

2. Belajar menghafal angka Thailand
Belajar angka sangat berguna ketika ingin membeli makanan, naik ojek (tawar harga), atau belanja baju. Karena keperluan untuk membeli dan berbelanja sangat mendesak di Thailand, berikut saya akan informasikan bahasa jual-beli singkat di Thailand.

Buyer: Ani torai ka/kap? (how much the cost?)\
Seller: Song roy baht (twenty hundred baht)
Buyer: Lo dai ka/kap? (can I bargain?)
Seller: Dai (Yes, you can)/ Mai Dai (No, you can't)

Berikut angka-angka dalam bahasa Thai:
1: Neng. 2: Song. 3: Sam. 4: Si. 5: Ha. 6: Hok. 7: Cet. 8: Pet. 9: Kao. 10: Sip
Puluhan: Sip. contoh: 50=Ha Sip, 45=Si Sip Ha
Ratusan: Roy. contoh: 100=Neng Roy, 200=Song Roy, 250=Song roy ha sip, 275=Song Roy Cet Sip Ha, dan sebagainya....

Cobalah menggunakan bahasa inggris terlebih dahulu untuk membeli barang. Ada penjual yang ditanya pakai Bahasa Inggris, balasnya pakai bahasa Thai. Ada penjual yang ditanya pakai bahasa Thai, balasnya pakai bahasa Inggris. Serba salah. Tapi kalau tukang ojek, kondektur bus dan perahu udah pasti tidak bisa bahasa Inggris. Tukang taksi hanya sedikit yang bisa bahasa Inggris. Saya pernah naik taksi sendirian sekitar pukul 21.00 WIB menuju hotel. Saya bilang alamat hotel saya: "Ramkamheng Sam Sip Ha", "Ramkamheng 35". Si supir dengan usahanya yang keras mengajak saya berbicara bahasa Inggris. Terpaksa malam itu saya harus belajar listening bahasa Inggris ala Thailand. Nyeraaah! Yang penting dia bisa antar saya sampai depan hotel apapun yang dia katakan, saya menjawab sebisa yang saya mengerti.

Saya juga sempat melakukan tawar menawar dengan tukang ojek. Namun tidak berpengaruh sama sekali dan saya harus bayar ojek Neng Roy Ha Sip atau 150 baht (Rp45.000). Saya paling takut kalau ada tukang ojek berbicara bahasa Thai. Lebih baik bisu. Sialnya, kacamata saya terbang karena angin kencang saat naik ojek. Untungnya waktu itu, saya sedang dalam perjalanan pulang ke hotel. Kalau tidak, bisa-bisa jadi orang buta dan bisu malam itu. hehe

3. Tulis Alamat Tujuan atau Hotel Dimana Kita Tinggal


Airport Link dalam Huruf Thailand
Ketika kalian ingin bepergian ke suatu tempat dengan kendaraan umum, hafalkan nama tempat tujuan. Apabila sulit, minta teman, orang Hotel, atau siapa pun yang bisa menulis huruf Thailand di secarik kertas. Hal ini untuk mempermudah komunikasi dengan tukang ojeg, perahu, tuk-tuk, taksi, atau kondektur bus. Hal ini juga memperkecil kemungkinan kalian nyasar ketika kembali ke hotel. Maka dari itu, yang paling praktis sebenarnya minta saja kartu nama hotel karena disitu sudah pasti ada alamat bahkan peta letak hotel tersebut. Simpan di tempat yang mudah dan cepat dijangkau. Usahakan jangan ditaro di dompet. Karena kalau dibutuhkan harus mengeluarkan dompet yang mana tidak aman.

Perlu diketahui pula bahwa orang Thai tidak mengenal kata Bangkok sebagai ibukotanya. Alasannya adalah Bangkok lebih dikenal orang Thai dengan nama Kunthep. Wisatawan asing dan peta menyebutnya Bangkok. Tidak perlu tahu tulisannya bagaimana yang penting bisa bicaranya. Namun, di sisi lain, kita perlu tahu tulisan-tulisan tertentu seperti nama jalan untuk kepraktisan dan keamanan. Berhati-hati juga dengan barang bawaan ketika berbelanja atau menumpangi kendaraan umum karena sekali lagi, kota Bangkok tidak seperti Singapur yang aman dan rapi.

Thailand: Telur Dadar Penyelamat

Dua minggu di Thailand membuat saya gerah bertemu Tom Yum. Makanan satu ini memang selalu hadir di setiap meja makan restoran Thailand. Meskipun Tom Yum dari satu restoran ke restoran lain menyajikan Tom Yum yang berbeda-beda, saya tetap berkata tidak untuk Tom Yum. Rasa asam yang berlebih tidak menggoda lidah saya untuk mencicipi Tom Yum tiap kali makan.

Rasa makanan Thailand kurang pas dengan lidah saya. Makanan Thailand jarang menggunakan kecap manis. Menurut info yang saya dapatkan dari teman, Thailand cuma punya kecap asin. Kebanyakan rasa asin bukan dari garam tapi dari rasa kecap asin, Mau dibilang apapun enaknya Tom Yum tetap tidak sehati. Sama aja kaya perasaan saya dengan makanan Jepang Sushi. Intinya, saya kurang sejiwa dengan Tom Yum dan Sushi.

Tom Yum memang makanan khas Thailand. Tapi sesungguhnya menu masakan Thailand tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Disana juga ada kangkung sebagai sayur andalan di tiap restoran. Dan satu lagi makanan yang sepertinya semua orang Indonesia pasti suka. Ya, telur dadar!
A: "Jauh-jauh ke Thailand makan telur dadar?"
B: "Emang orang Thailand ngga boleh goreng telur dadar?"
hahaha

Bagi tamu yang pernah saya bawa saat tour, telur dadar itu jadi penyelamat ketidaknafsuannya dengan makanan Thailand. Mau dimana pun restorannya, mahal atau murah pasti ada telur dadar. Perjumpaan dengan telur dadar di meja-meja makan restoran Thailand terasa seperti makan di meja makan negara sendiri. Dan tidak ada telur dadar yang tersisa di meja makan orang Indonesia. hehehe

Sabtu, 29 September 2012

Thailand: Mimpi Punya Kebun Anggur Sendiri

Pelataran Rumah Suspansa
Amazing! Saya benar-benar kagum sama artis Thailand yang punya kebun Anggur di Nong Nooch Tropical Garden, Pattaya. Yaampun, indah banget tempatnya. Selain kebun anggur disana ada danau yang kalau kena sinar matahari warnanya jadi mirip-mirip silver. Jujur saya tidak sempat melihat danau itu tapi saya berkunjung ke rumah si artis yang sekarang dijadikan sebagai tempat wisata. Tidak perlu keluar uang untuk berkunjung ke kawasan rumah si artis yang bernama Suspansa (dia tidak tinggal disini).

Kalau mau mencicip jus anggur atau minuman anggur murni bisa langsung dicoba disini. Karena kalian bisa beli banyak produk-produk berbau anggur di tempat ini. Tidak hanya yang berupa cairan tetapi juga selai atau kue-kue lezat. Tempat ini sungguh menarik untuk dijadikan sebagai tempat tinggal masa tua. Tidak lagi bekerja dan mengurusi kebun anggur. haha

Tapi jangan salah Suspansa masih berumur 55 tahun. Dia sudah punya kebun anggur yang hanya bisa dilihat dan tidak boleh dipetik anggurnya oleh wisatawan. Kalau mau ke kebun anggur harus bayar lagi. Dan untuk biaya masuknya saya kurang tahu, hehe. Saya ke tempat yang gratisan aja udah bagus seperti ini apalagi ke kebun anggurnya.



Thailand: Unique Animal Shows

Dua jam lamanya perjalanan ditempuh dari Bangkok sampai di Pattaya. Pattaya merupakan kota favorit wisatawan selain kota Bangkok. Yang terkenal di Pattaya bukan hanya pantainya yang memiliki panjang 300 km. Tapi masih banyak tempat wisata menarik lainnya yang terlihat sederhana namun tidak dapat dijumpai di Jakarta.

Pernahkah kalian berpikir untuk memasukan kepala kalian ke dalam mulut mahluk lain? Tentu saja mahluk hidup selain manusia. Bagaimana kalau mahluk itu adalah sejenis hewan karnivora yang terlahir untuk menikmati daging-daging segar. Tanpa berbasa-basi lagi mari kita sambut, buaya-buaya pekerja yang sehari-harinya bisa kita jumpai di Crocodile Show di Sriraca Tiger Zoo. Mereka tampil di depan ribuan mata manusia yang berdebar-debar melihat seorang laki-laki dan perempuan memasukan kepalanya ke dalam mulut buaya-buaya tersebut.

Pawang Laki (Baju Merah),
 Pawang Perempuan (Sedang Memasukan
Kepalanya
ke dalam Mulut Buaya)
Nekat demi mencari nafkah memang banyak ditemukan di kehidupan manusia jaman sekarang. Ngga kebayang kalau kepala laki-laki dan perempuan ini suatu hari tergigit buaya. Entah bagaimana buaya-buaya ini dilatih sampai bisa mengerti apa yang diperintahkan oleh sang pawang. Kira-kira ada enam buaya yang saya liat waktu menonton pertunjukan ini. Pertunjukan yang tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Sriraca. Bosan melihat si Buaya dan pawangnya yang siap mati, mari kita berjalan sebentar menuju Pig Show.


Pig Show menawarkan pertunjukan antara lain, melihat balapan lari babi dan babi berhitung. Babi kecil hingga yang segede-gede bagong ada disini. Hitam putih agak pink semuanya ada. Hanya sebentar melihat pertunjukan babi. Ada lagi babi menyusui macan dan macan menyusui babi. Nah loh apa tuh maksudnya?

Sejujurnya saya tidak langsung melihat proses susu menyusui antar hewan-hewan fenomenal di atas. Di dalam sebuah kanang kaca besar, seekor macan betina hidup berdampingan dengan seekor anak babi. Di sisi lain, terdapat kandang kaca besar dimana seekor anak macan hidup berdampingan bersama seekor babi betina. Sebenarnya apa yang terjadi?*puter otak*

Namanya Sriraca Tiger Zoo tapi kok ngga ada Tiger Show-nya? Tiger Show pasti ada dong. Tapi Tiger Show-nya tidak berbeda jauh dengan kebun binatang di Indonesia. Tribun-tribun Tiger Show penuh hingga membanjiri aspal dari gedung show tersebut. Elephant Show disini tidak semenarik di Nongnooch Village. Maka dari itu, saya langsung menuju Nongnooch Village usai cuci mata di Sriraca.

Jadwal Show di Sriraca Tiger Show
Ya begitulah, Thailand memang punya wisata-wisata unik dengan nilai kreatifitas tinggi. Umumnya paket-paket tour ke Thailand memasukan Sriraca Tiger Zoo sebagai pilihan wisata. Harga tiket masuk Sriraca Tiger Show (iclude semua show) kurang lebih 210 bath atau Rp 60.000. Jangan kaget ketika masuk tempat wisata ini, ada laki-laki yang sibuk sekali memotret kalian. Jangan ge-er karena semua pengunjung pasti difoto. haha. Bergayalah sepuasnya! Karena wajah kalian akan terpampang di pintu keluar. Mau punya oleh-oleh dari Sriraca Tiger Zoo? Beli aja hasil foto kalian yang sudah dicetak tempel di suvenir Sriraca Tiger Zoo. Bagi yang tidak membeli foto mereka, siap-siap ditarik untuk masukin kepala ke mulut buaya loh! hahaha

Rabu, 12 September 2012

Thailand: Transportasi, Agama, dan Orientasi Seksual

Ketiga, Bangkok punya MRT dan BTS, Jakarta has nothing. Di Bangkok, saya sama sekali tidak mencoba MRT. Saya dan teman-teman lebih suka naik BTS yang tidak dapat ditemukan di negara canggih macam Singapur. Sebenarnya bedanya MRT dan BTS hanya masalah penempatan keretanya saja. Kalau MRT di bawah tanah. Kalau BTS di atas udara. Harga tiket BTS tergantung jarak tempat yang ditempuh. Siapkan koin-koin untuk memudahkan bertransaksi langsung dengan mesin pengambilan tiket BTS. Kalau tidak ada koin bisa ditukar terlebih dahulu di kasir.

Kejadian paling lucu itu terjadi pada salah satu teman saya. Waktu itu saya sedang menunggu teman saya yang lain di Stasiun Mo Chit. Teman saya ini ingin mencari toilet akirnya dia masuk ke stasiun dengan tiket tujuan Stasiun Chit Lom seharga 35 baht. Saya memang masih menunggu di luar dan belum menggunakan tiket masuk kereta tersebut. Karena teman saya ini cerdas, dia keluar lagi dari tempat tunggu kereta yang akan kita tumpangi yaitu dengan cara memasukan tiket masuk itu ke tempat yang sama. Alhasil tiketnya tertelan karena secara otomatis tiket tersebut menjadi tiket keluar stasiun. Pelajarannya adalah tiket BTS dipakai dua kali, pertama, sebagai tiket masuk, dan kedua sebagai tiket keluar. Sebenarnya sama saja seperti tiket kereta di Jakarta. Bedanya ini pakai mesin, di Jakarta pakai tukang cek tiket. Pengecekan tiket melalui mesin lebih adil sebenarnya karena pengalaman saya beli tiket kereta di Jakarta mahal-mahal tapi tidak diperiksa.

Apabila kita tidak memiliki kendaraan pribadi untuk menuju airport, kita dengan mudah bisa menggunakan BTS Airport Link. Airport link telah menjadi penyelamat saya ketika harus menjemput tamu di airport seorang diri. Kalau naik BTS dari airport link, uang kertas bisa langsung dimasukan ke dalam mesin penarikan tiket. Nikmatnya perjalanan menuju airport Suvarnhabumi dengan BTS. Kapan Jakarta punya transportasi seperti ini.

Selain MRT dan BTS, kita juga bisa menumpangi tuk-tuk untuk berjalan-jalan di kota. Transportasi ini banyak berkeliaran di jalan raya kota Bangkok dimana memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan bajaj Jakarta. Mereka dikenal dengan tukang salip jalanan. Namun, tidak semua tukang tuk-tuk jujur. Waspada ketika ingin menyewa tuk-tuk karena supir tuk-tuk bisa membawa kita berkeliling ke tempat-tempat berbelanja yang tidak ingin kita kunjungi sebenarnya. Tarif tuk-tuk standar 30-50 baht.

Keempat, kentalnya agama Budha di Bangkok cukup terasa dengan banyaknya kuil-kuil untuk berdoa dan sesajen. Suasana religius seperti ini tidak mungkin didapatkan di Jakarta. Hiruk pikuk kota Bangkok tidak mematikan kegiatan berdoa masyarakat Budha di Bangkok. Hal ini terbukti dengan kegiatan doa di Patung Four Face Budha yang terletak tidak jauh dari kawasan belanja Pratunam. Patung Budha ini memiliki 4 wajah yang melambangkan cinta, keluarga, kesehatan, dan keuangan. Setiap masyarakat atau turis dengan agama apapun dapat berdoa disini sesuai dengan apa yang mereka yakini masing-masing. Masyarakat Bangkok ada yang berdoa di tempat ini sebelum mereka berangkat ke kantor dan kembali berdoa di Four Face Budha setelah pulang kerja. Jadi, Four Face Budha buka dari pagi buta hingga malam hari.

Waria Thailand versi Korea di
Alcazar Show Pattaya
Selain, sisi religius agama Budha di Bangkok, hal lain yang tidak ditemukan di Jakarta adalah kebebasan orientasi seksual. Jangan heran kalau suatu saat melihat lesbi duduk bersama di dalam bis atau waria-waria cantik menjadi pedagang toko baju. Budaya Indonesia tidak bisa menerima kebebasan orientasi seksual seperti ini. Terkadang kita justru meremehkan waria-waria yang tidak terurus di jalan-jalan ibukota. Di Thailand, waria sangat dihargai keberadaannya. Mereka dianggap sama seperti masyarakat lainnya yang straight laki-laki dan straight perempuan. Bahkan pemerintah menjadikan mereka sebagai pendukung pariwisata di Thailand. Misalnya, di Bangkok dan Pattaya, kita bisa menyaksikan waria cabaret show dimana para waria ini berakting teater musikal di atas panggung pertunjukan. Siapa yang ingin foto dengan waria-waria cantik ini? Saya mau!



Selasa, 11 September 2012

Thailand: Siap2 Baht Lenyap Cepat!

"Ingat! Kalau 1000 baht sudah pecah, hati-hati akan habis sesaat"

Tiba di pusat kota Bangkok, menyusuri jalan-jalan Sukhumvit yang dipadati kendaraan bermoor, padatnya pedagang di kiri kanan jalan, mall-mall berjejer di sepanjang jalan, kurang lebih sama dengan keadaan di Jakarta. Lalu apa yang berbeda dengan Jakarta? Dan kenapa banyak orang Indonesia datang ke Bangkok?

Pertama, di kota Bangkok banyak sekali pilihan tempat berbelanja. Mulai dari yang harganya selangit dengan kualitas produk juga selangit sampai ke produk-produk yang harganya murah meriah dengan kualitas online shopping. Jujur saya belum puas berbelanja di Bangkok. Meskipun sudah dua sampai tiga kali mengunjungi tempat belanja yang sama, ada saja barang-barang yang tidak terlihat oleh mata saya. Ada saja yang unik, dan ada saja yang murah. Itulah hal terburuk yang saya dapati di kota Bangkok. Baht-baht saya melayang dengan cepat namun batin memang puas, hahaha.

1. Platinum dan Chatucak Market
Platinum dan Chatucak Market adalah dua tempat favorit belanja saya di Bangkok. Belanja murah dengan kualitas bagus adalah kebahagian para wanita, haha.Platinum bisa dibilang mirip seperti ITC Kuningan atau Mangga Dua. Harga Jelly Shoes yang dijual di Jakarta Rp 90.000-Rp100.000,-, disini cuma seharga Rp35.000-Rp40.000,- . Betul-betul suatu pembohongan besar, hahaha. Bagaimana tidak, banyak sekali reseller Indonesia yang berbelanja di Bangkok dan mendapatkan keuntungan yang tidak terlalu besar namun dalam jumlah yang banyak. Sekarang saya tahu, darimana asal barang-barang online shopping itu. Baju-baju perempuan jaman sekarang ala cherrybelle tumpah ruah di tempat ini. Ala-ala Korea murah meriah bahan bagus tidak menyesal dengan harga kurang dari Rp100.000,-. Di sebelah kanan luar Platinum, ada juga pedagang baju dan aksesoris kaki lima. Yang saya aneh setengah mati di Bangkok ini, kenapa barang yang dijual di kaki lima kualitasnya juga bagus-bagus. Jadi tinggal pilih mau belanja di jalan Pratunam dulu atau masuk ke Platinum dulu, haha.

Untuk laki-laki tidak usah takut karena teman saya yang laki-laki juga sibuk sekali mencari sepatu dengan bahan-bahan suede dan warna beragam. Apa yang didapatkan di Jakarta dengan harga diatas ratusan ribu rupiah, di Platinum dan Chatucak Market justru jauh di bawah harga-harga tersebut. Kalau Platinum buka jam 08.00-20.00, berbeda dengan Chatucak yang hanya buka setiap Sabtu dan Minggu. Jangan kaget kalau ingin berbelanja di pasar yang satu ini. Padat merayap dengan bentuk pasar berlabirin. Barang bekas, kw, kw super, dan asli semua dijual disini. Meskipun bentuknya sedikit mirip dengan Pasar Senen, tapi kualitasnya tidak sama dengan Pasar Senen. Kisaran harga baju yaitu 100-250 baht. Karena pasar ini semi outdoor, siap-siap bawa payung kalau nanti turun hujan. Menuju Chatucak bisa dengan BTS turun di Stasiun Mo Chit karena Chatucak Market tepat di bawah jembatan BTS.

2. Mah Boon Krong (MBK)
MBK merupakan mall yang nampaknya banyak diperbincangkan dalam paket tour ke Bangkok. Padahal menurut saya barang-barangnya biasa saja kalau dibandingkan dengan Platinum. Entah kenapa tiap turis Indonesia harus sekali ke MBK. Mungkin karena letak MBK yang strategis berada dekat dengan mall-mall lain seperti Siam Paragon dan Siam Discovery. Harga barang-barang di MBK dan mall-mall ini tidak terlalu bersaing. Hanya ada satu toko yang menurut saya wajib dikunjungi oleh ibu-ibu dan kakak-kakak sekalian, yaitu NARAYA (lantai dasar Tokyu). Naraya ini menjual produk tas, dompet, topi, dan aksesoris lainnya. Produk-produk buatan Jepang ini hanya bisa ditemukan di Hongkong dan Thailand. Motif bunga-bunga jadi favorit desain produk Naraya. Bukan karena produk Jepang lalu harganya mahal, salah besar. Justru produk Naraya banyak menjadi incaran wisatawan untuk berbelanja oleh-oleh. Salah satu wisatawan itu adalah saya. hahaha. Di lantai 6 MBK, kita bisa liat Madame Tussauds dimana banyak patung-patung lilin orang-orang terkenal dan arti-artis dunia tampil disini. Tamu bebas foto dengan patung-patung tersebut dan ada juga tawaran untuk mencetak langsung hasil foto dengan Obama di kantor kerjanya.

3. Asiatique
 Ada lagi pasar malam di Bangkok namanya Asiatique. Tempat belanja ini baru saja dibangun. Kebetulan saya lupa tahun berapa. Yang jelas disini juga barang-barangnya unik-unik. Ada yang bisa ditawar ada yang tidak. Nah, kalau mau nawar juga, hanya pedagang-pedagang tertentu yang bisa bahasa Inggris. Jadi, punya teman atau guide yang bisa bahasa Thailand sangat amat membantu. Paling tidak bisa berbicara: ani torai ka? (ini harganya berapa?), lo dai ka? (bisa ditawar tidak), dai (bisa), mai dai (tidak bisa), dan mengerti angka-angka. Untungnya, seiring berjalannya waktu, saya lumayan mengerti kalau masalah tawar menawar. Asal jangan ngomong di luar itu. Saya angkat tangan! haha. Suasana Asiatique yang nyaman, bersih, dan semi outdoor sangat nikmat untuk jalan dan berbelanja santai di malam hari.

Mangga Ketan (Mango with Sticky Rice)
Kedua, bagi pecinta seafood, Bangkok gudangnya seafood murah dan enak. Jajanan sate seafood pinggir jalan harganya 10 baht atau sekitar Rp3.000. Ada cumi yang dalamnya telor, udang, dan daging sapi kaki pendek alias babi yang sangat teramat murah harganya jika dibanding beli di Jakarta. Ngomong-ngomong daging babi, saya sempat menemani tamu saya membeli babi panggang dan nasi di dekat Grand Palace yang harganya hanya Rp12.000. Nasi goreng (Kao Phat) Rp6.000 . Nasi campur sayur+telor ceplok+udang Rp 12.000,-  (Jualan mba?hahaha). Selain itu, Bangkok juga gudangnya buah-buah segar. Tidak ada buah yang saya temukan tidak manis di Bangkok. Buah mangga biasa dimakan dengan bumbu pedas asin ala rujak Thailand yang banyak sekali dijual di pinggir jalan. Ada juga makanan khas Thailand yang patut dicoba yaitu mangga ketan. Sulit digambarkan rasanya seperti apa karena saya juga bingung bisa-bisanya orang Thailand menyatukan mangga dengan ketan menjadi makanan yang laku untuk dijual, ckck. Yang pasti rasanya manis-manis bikin kenyang.

Escalator Lantai 1-3

Ada 1 lagi foodcourt dengan makanan berkelas dan murah, yaitu foodcourt Terminal 21. Disini banyak sekali jenis makanan murah, higienis, unik, dan yummy. Tempat makan ini sangat saya rekomendasikan bagi kalian yang nanti mau jalan-jalan ke Thailand. Tidak hanya foodcourtnya tapi juga mall-nya unik. Terminal 21 memiliki beberapa lantai dimana setiap lantainya didesain berbeda sesuai dengan negara-negara berikut ini, Inggris, Perancis, Jepang, Turki, dan sebagainya. Alasan mall ini diberikan nama Terminal 21 sunggguh bukan main-main karena memang mall ini ingin menciptakan suasana airport kepada para pengunjungya.

Untuk makan malam seafood, Royal Dragon bisa menjadi pilihan yang tepat untuk menikmati dinner seafood

Tidak hanya sekedar menyediakan seafood tetapi juga pemandangan pagoda-pagoda yang khas ada di resotran ini. Ada pula pertunjukan laki-laki berkostum pendekar china yang membawa tomyam dengan satu tangan dan terbang. Sejujurnya laki-laki ini tidak terbang tapi meluncur dengan flying fox listrik sepanjang 10 meter.

(Perbedaan Bangkok dan Jakarta bisa dibaca di postingan selanjutnya)

link:
http://www.madametussauds.com/Bangkok/en/

Minggu, 12 Agustus 2012

Thailand: Sawadee Ka!

Keluar di Terminal B, Gate 7, Bandara Suvarnhabumi Bangkok, saya disapa dengan beberapa orang yang sebelumnya hanya saya kenal melalui blackberry messenger saya. Mereka adalah karyawan kantor travel dimana saya akan dipekerjakan sementara selama di Thailand. Ya, perjalanan saya kali ini memang lebih bermanfaat dibanding jalan-jalan yang biasa saya lakukan karena disini saya diberi kesempatan untuk meraup pengalaman-pengalaman baru, teman-teman baru, dan pendapatan baru tentunya. Suatu peristiwa yang tidak pernah saya pikirkan terjadi dalam hidup saya pasca kelulusan universitas. haha. Saya bisa bekerja sambil jalan-jalan di negara yang belum pernah saya injak sebelumnya. Menurut rencana, saya akan menghabiskan waktu saya selama 13D12N di Bangkok dan Pattaya!

Pertama kalinya saya tiba di kota Bangkok. Kurang lebih 1 jam perjalanan Bandara Suvarnhabumi ke Bangkok. Lancar bukan main perjalanan menuju Bangkok. Namun, sesaat tiba di kota Bangkok, jalan raya mulai memadat terutama ketika melewati beberapa objek wisata candi seperti kawasan Grand Palace yang dipenuhi dengan wisatawan dan pedagang kaki lima. Untuk masuk ke kawasan candi dan kuil-kuil, para wisatawan diharuskan mengenakan pakaian yang tertutup. Apabila terlanjur mengenakan pakaian pendek, kita bisa sewa kain penutup dengan deposit uang 100 baht yang nantinya akan dikembalikan lagi saat pengembalian kain. Memasuki lokasi Grand Palace, kita akan disapa dengan  patung Yak raksasa yang bertugas menjaga Grand Palace. Dahulu tempat ini merupakan kediaman raja dan ratu Thailand. Di dalam Grand Palace, ada patung Budha yang bajunya harus diganti tiap 6 bulan sekali. Hanya raja atau putra raja yang bisa menggantikan pakaian Budha tersebut.

Cuaca terik bersentuhan dengan kulit orang-orang Jakarta yang merasa kaget dengan panasnya matahari kota Bangkok siang itu.

Jari-jari Sleeping Budha di Wat Pho
Kami memutuskan untuk turun di depan sebuah objek wisata bernama Wat Pho. Jangan lupa untuk melangkahi palang kayu yang ada di bawah pintu kuil. Kita tidak boleh menginjak palang kayu itu karena untuk menghormati dewa/dewi yang dipercaya menjaga pintu kuil tersebut. Di dalam Wat Pho, kita dapat melihat Sleeping Budha yang panjangnya 15 meter. Selain itu, dengan menukarkan 20 bath, kita bisa mendapatkan 108 koin yang nantinya dapat dimasukan ke mangkok-mangkok yang sudah dijejerkan di depan Sleeping Budha. Sambil mencemplungkan koin ke dalam mangkok, kita bisa mengucapkan doa dan harapan. Apabila koin-koin tersebut habis sesuai dengan banyaknya mangkok yang tersedia, artinya doa dan harapan kita bisa terkabul. Apabila koinnya kurang atau justru kelebihan, artinya.. ya tidak apa-apa, hahaha. Intinya ini hanya kepercayaan yang selalu dijelaskan kepada para wisatawan. Menurut saya kepercayaan ini ada karena Wat Pho adalah kuil dimana semua orang boleh memanjatkan doanya sesuai dengan keyakinannya masing-masing. 

Selanjutnya, saya menyebrangi Sungai Chao Praya menuju Wat Arun. Pada zaman dahulu, Sungai Chao Praya merupakan jalur transportasi yang digunakan para pedagang-pedagang Cina dan negara lainnya untuk masuk ke Thailand. Di sungai ini, kita juga bisa melihat tanaman eceng gendok yang biasa kita temukan di sungai di Indonesia. Ternyata, dahulu Raja Chulalongkon, raja Thailand ke-5, membawa bibit eceng gendok dari Indonesia kemudian ditanam di sungai tersebut. Kurang lebih 10 menit, saya tiba di Wat Arun. Masih sama dengan Wat Pho, Wat Arun juga merupakan candi sekaligus kuil yang tinggi menjulang dan berwarna-warni. Kebiasaan orang Indonesia di Wat Arun adalah berbelanja kaos-kaos khas Thailand. Toko-toko baju disini sedikit dan sempit. Hanya ada kurang lebih 5 penjual yang menjajakan oleh-oleh kaos, dompet, pernak-pernik, atau perhiasan. Tak usah khawatir dengan kesulitan bahasa dalam berbelanja karena pedagang bisa berbahasa Indonesia. Mungkin sudah terlalu banyak orang Indonesia berbelanja kesini sehingga memaksa pedagang untuk bisa berbahasa Indonesia. Harga kaos berkisar Rp 30.000-Rp50.000,-/kaos.

Di sepanjang kawasan Grand Palace, Wat Pho, dan Wat Arun, saya melihat beberapa penjual togel. Perlu diketahui bahwa di Thailand tidak ada kasino karena dilarang oleh pemerintah. Tapi kalau bicara masalah togel, Thailand sangat melegalkan togel bahkan dijual terbuka di pinggir jalan. Menurut info yang saya dapatkan, undian akan diumumkan tiap 2 minggu sekali, tiap tanggal 1 dan 16 bulan tertentu. Nantinya, uang bisa diambil di bank yang bekerjasama dengan pihak togel-togel tersebut, hahaha.

Pemandangan kota Bangkok memang tidak jauh berbeda dengan Jakarta, namun untuk hal yang satu ini kita tidak akan pernah menjumpai di kota Jakarta. Melintasi jalan-jalan di kota Bangkok, kita dapat melihat foto-foto narsis Raja Bumi Adulyadet, Ratu Siringkit, dan putra-putri raja. Masa muda raja dan ratu juga terekam dalam foto-foto berukuran besar sekali (berapa R ya itu??). Ukuran foto-fotonya sebesar-besar spanduk kampanye kalau di Jakarta. Betapa berharganya Raja dan Ratu bagi masyarakat Thailand. Ini merupakan suatu bentuk penghormatan kepada keluarga kerajaan dari masyarakat kepada raja penyuka warna kuning dan ratu penyuka warna biru tersebut. Kebetulan, tanggal 12 Agustus, hari dimana saya tiba di Bangkok merupakan hari kelahiran Ratu Siringkit yang ke-80. Saya dan masyarakat Thailand mengenakan baju berwarna biru untuk menyenangkan hati Ratu Siringkit waktu itu. 

Memang unik sekaligus menarik bagi kita wisatawan asing untuk menyaksikan foto-foto keluarga kerajaan di jalan-jalan kota Bangkok. Kita tidak secara langsung benar-benar disambut oleh Raja dan Ratu Thailand sesaat menginjakan kaki di City of Angels ini.