"Journey, it's not about where you go, where you stay, but how you enjoy it with or without friends. Be grateful" - Mine

Rabu, 07 Maret 2012

Majalah Airlines : Penyelamat Mati Gaya di Pesawat

Selama penerbangan, kecenderungan mati gaya (ngga tau mau ngapain lagi) bisa terjadi apalagi ketika perjalanan berjam-jam, mata sudah bosan tidur dan tidak ada yang bisa dikunyah. Biasanya yang saya lakukan membaca bacaan favorit saya selama di pesawat, yaitu majalah airlines yang saya tumpangi.

Liputan dan berita di majalah airlines merupakan salah satu contoh kegiatan promosi pariwisata. Namun majalah ini  memang media yang bersifat eksklusif melihat tempat membaca yang hanya bisa dilakukan di pesawat  dan pembacanya hanya penumpang dari pesawat tersebut. Majalah ini pun tidak diperjualbelikan.

Kebetulan cover dari majalah yang saya akan baca kali ini sudah tidak asing lagi di mata kita. Raja Ampat.. Raja Ampat dan Raja Ampat. Lama-lama bosan juga melihat angle foto Raja Ampat yang selalu di ambil landscape dari atas. Hal ini membuat foto Raja Ampat baik di majalah maupun internet kadang terlihat sama saja. Mungkin karena Raja Ampat mempunyai ciri khas pulau-pulau dan bukit batu yang terpisah-pisah sehingga menurut banyak fotografer view landscape dari atas adalah yang terindah. Karena saya juga belum pernah ke Raja Ampat jadi saya hanya bisa berkomentar saja tanpa melihat secara langsung.

Tulisan-tulisan di dalam majalah tidak jauh meliput pulau dan kota-kota pariwisata di Indonesia seperti, Belitung, Ternate, Lombok, dan sebagainya. Dan beberapa tempat ini sudah pernah saya kunjungi sebelumnya.

Belitung memang memiliki ciri khas pantai tersendiri. Batu-batu granit besar dan kecil tersebar di pantai-pantainya. Tahun lalu saya sempat mengunjungi dua pantai indah di Belitung, yaitu Tanjung Klayang dan Tanjung Tinggi. Pemandangan eksotis batu granit, pantai, dan langit di siang menjelang sore hari memang indah di kedua tanjung ini. Dan tentunya pemandangan seperti ini hanya bisa kita dapatkan di kota Belitung.

Pindah ke Indonesia bagian timur menuju kota Ternate. Sebenarnya saya sudah pernah sampai di kota ini hanya saja belum pernah mengunjungi Jailolo, tempat dimana akan diadakannya Sail Jailolo Mei 2012. Seperti Sail Belitung, salah satu cara pemerintah mempromosikan pariwisata di Jailolo ini juga dengan program Sail. Kegiatan sail biasanya meliputi promosi kebudayaan daerah seperti tari-tarian, makanan khas, dan sekaligus mempromosikan keindahan bawah laut yang dimiliki daerah tersebut. Orang Timur memang terkenal dengan penghasil ikan terbanyak di Indonesia. Karena banyak masyarakat yang tinggal di pesisir pantai dan bermata pencaharian sebagai nelayan. Kegiatan Sail Jailolo nantinya juga akan melibatkan masyarakat sekitar untuk mengikuti lomba makan ikan hasil tangkapan sebanyak-banyaknya. Pasti lomba ini akan menyita banyak fotografer dan kameramen dari berbagai media untuk meliput kegiatan Sail ini.

Nusa Tenggara Barat juga akan merayakan Festival Bau Nyale tahunan. Singkat cerita, festival ini akan memperlihatkan cacing-cacing atau disebut nyale yang keluar dari pasir di sekitar pantai. Nantinya nyale akan di masak dan di makan oleh warga. Mungkin untuk informasi lebih mengenai festival ini bisa dibaca http://indonesia.travel/en/event/detail/425/bau-nyale-festival-2012-the-arrival-of-the-sea-worms-in-lombok

Sabtu, 14 Januari 2012

Pulau Perak: Speechless!

september 2011


Destinasi wisata di Jakarta memang kurang beragam. Satu-satunya kawasan pantai terdekat yang bisa dikunjungi oleh orang-orang Jakarta adalah Pantai Ancol. Namun, sebenarnya tidak jauh dari Jakarta, kita juga dapat menikmati wisata pantai yang cukup menarik, yaitu di Kepulauan Seribu. Kenyataannya, Kepulauan Seribu tidak terdiri dari 1000 pulau tetapi hanya kurang lebih 200 pulau yang tidak semuanya berpenghuni. Perjalanan weekend kali ini, saya berkesempatan untuk menghabiskan waktu di Pulau Perak bersama beberapa teman-teman tercinta.


Singkat cerita, perjalanan dimulai dari Muara Angke, tempat kami bisa menumpangi kapal dolpin untuk menuju Pulau Harapan. Nantinya, dari Pulau Harapan, kami harus menyewa kapal lagi untuk menuju Pulau Perak. Kurang lebih 2 jam, kami tiba di P.Harapan. Sebelum menlanjutkan perjalanan, kami mengisi perut terlebih dahulu dengan nasi goreng yang bisa dibeli meskipun harus berjalan agak jauh dari pelabuhan. Jika ingin snorkeling, alat snorkeling dan jaket pelampung bisa disewa di pulau ini dan dibawa ke pulau tujuan kita nantinya. Setelah perut terisi dan perlengkapan snorkeling siap, kami menyewa sebuah kapal bermuatan 10-13 orang untuk menghantarkan kami ke P.Perak.


Tiba di P.Perak, kami mendirikan tenda. Kami memang sudah membawa perlengkapan tenda dan bekal secukupnya untuk makan mulai dari siang hingga keesokan paginya. Tentunya, tidur dengan fasilitas tenda ini tidak akan pernah ada dalam paket perjalanan yang biasa dibuat untuk menginap di kepulauan seribu pada umumnya. Jadi saya beruntung mempunyai teman-teman yang juga berjiwa petualang di alam bebas. Kami juga membawa kompor gas kecil, nesting, peralatan makan plastik, dan peralatan masak secukupnya.

Matahari terik mulai membakar kulit muka saya yang akhirnya meninggalkan bekas kemerah-merahan terutama di bagian hidung dan pipi. Dengan google, fin, dan pelampung, saya mulai ber-snorkeling. Ini ketiga kalinya saya snorkeling yang sebelumnya snorkeling di Bunaken dan Gili Lombok. Pak Ayang, pemilik perahu, membawa kami ke daerah tidak begitu jauh dari P.Perak untuk melihat indahnya bawah air kepulauan seribu. Dengan googles, fin, dan pelampung, saya mulai ber-snorkeling. Pantai dengan pasir putih memang lebih mengangumkan di pandangan mata dibanding pantai dengan pasir hitam, seperti Pantai Ancol. Sedikit banyak, saya berbincang dengan Pak Ayang yang juga berprofesi sebagai nelayan. Ia menjelaskan bahwa banyak pulau yang dibeli oleh masyarakat keturunan Cina yang biasanya digunakan untuk membuat resort, usaha perikanan, atau tujuan-tujuan tertentu lainnya. Saya jadi bermimpi ingin membeli salah satu pulau di kepulauan seribu ini.






Setelah snorkeling, kami beristirahat dekat tenda yang sudah kami dirikan sebelumnya. Beberapa dari kami mempersiapkan makan malam, kayu bakar untuk api unggun, dan yang lainnya pergi membilas badan. Ada hal-hal seru yang kami temukan selama berkempig di P.Perak. Seperti yang kami ketahui sebelumnya melalui beberapa informasi dari internet, P. Perak memang tidak memiliki fasilitas kamar mandi khusus bagi siapapun yang ingin menginap di Pulau ini. Jadi kami pun harus bekerjasama untuk mengambil air dengan cara menarik ember dengan tali dari dalam sumur sejauh 2 meter lebih.

Suasana malam hari di P. Perak begitu nikmat dengan ditemani api unggun dan matras di atas pasir pantai. Sambil berbaring di atas matras, saya menatap langit yang bertaburan bintang-bintang. Angin laut semilir-semilir menenangkan hati. Waktu malam hai kami habiskan dengan makan malam dan bermain kartu. Ketika kami sedang bersantai-santai, tiba-tiba beberapa orang yang tinggal di pulau ini mendatangi kami. Ternyata mereka memberitahukan bahwa letak tenda kami berkemping dekat dengan makam warga P.Perak. Seorang bapak juga memberi pesan kepada kami untuk menjaga diri satu dengan yang lain karena sempat ada wisatawan yang tidak sadarkan diri berjalan ke arah laut di malam hari. Kami adalah rombongan kedua yang berkemping di belakang  P.Perak dekat dengan makam tersebut. Rombongan pertamanya adalah bule-bule. Hari semakin malam, mata semakin mengantuk, kami semua tertidur pulas hingga matahari terbit menyapa dengan wajahnya yang oranye keemasan. Sunrise…!


Snorkeling, berkemping, memasak makanan sendiri, berapi unggun, dan melihat sunrise memberikan kenikmatan tersendiri bagi saya dan teman-teman selama 2 hari 1 malam di Pulau Perak, Kepulauan Seribu.