"Journey, it's not about where you go, where you stay, but how you enjoy it with or without friends. Be grateful" - Mine

Senin, 02 Januari 2012

#011 Orang Bajo : Peraturan-peraturan, Dunia Bajo dan Dunia Setan, Rahasia Terakhir Negeri Antah-Berantah

Salah satu hal yang unik dari kepercayaan suku Bajo adalah mereka menyangkal penggunaan kata “timur”. Arah timur, yang lazim digunakan dan diucapkan oleh orang-orang pada umumnya untuk menunjukkan lokasi atau tempat dalam navigasi, menjadi semacam pamali untuk diucapkan. Penyebab dan alasan dari tidak digunakannya kata “timur” untuk menunjukkan arah timur masih tidak diketahui dengan jelas. Si penulis menarik kesimpulan bahwa arti dan asal muasal larangan-larangan yang dipercayai di suku Bajo itu sudah dipatuhi selayaknya larangan itu sendiri sehingga tidak pernah dipertanyakan asal muasalnya. Sebagai pengganti penunjuk arah timur, suku Bajo menjelaskan arah dengan menggunakan penyebutan tempat geografis yang namanya diketahui semua orang. Selain mengganti penggunaan kata “timur” dengan tempat geografis yang diketahui semua orang, orang Bajo juga sering menggunakan kata “selatan” sebagai rujukan untuk arah timur. Lalu bagaimana dengan arah selatan yang sesungguhnya? Apakah mereka tidak akan salah mengerti dengan menggunakan kata “selatan” untuk menunjukkan arah timur? Uniknya, orang Bajo tidak pernah salah mengerti dan mereka mengetahui apakah “selatan” yang dimaksud itu benar-benar arah selatan atau merujuk ke arah timur.
Lalu selain larangan penggunaan kata timur, orang Bajo sangatlah kental dengan tradisi lisan. Mereka melestarikan budaya lisan ini lewat apa yang disebut sebagai pakannaang yang artinya cerita utama. Selain untuk melestarikan budaya dan cerita nenek moyang, melalui pakannaang masyarakat Bajo dapat mempererat hubungan sosial dan kekeluargaan di antara mereka. Hal ini disebabkan karena saat bercerita, orang-orang Bajo berkumpul di sekeliling tukang cerita dan mereka sangat menghargai suasana yang tercipta melalui penceritaan tersebut. Orang-orang Bajo juga merasakan perasaan gembira saat membentuk kelompok kecil untuk mendengarkan cerita si tukang cerita. Hal-hal kecil seperti ini sudah menjadi sama pentingnya bagi orang Bajo sepenting cerita itu sendiri. Melalui pakannaang inilah orang Bajo dapat mengungkapkan adat istiadat mereka, menampilkan diri mereka, serta mengekspresikan kepekaan mereka.
Satu hal lain yang sangat penting bagi orang Bajo tentu saja adalah laut. Orang Bajo dan lautan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Salah satu bentuk kedekatan orang Bajo dengan laut adalah dengan cara membuang ari-ari bayi yang baru lahir ke laut. Dibuangnya ari-ari ke laut menunjukkan bahwa semangat hidup (sumanga) suku Bajo yang berasal dari ari-ari berasal dari laut dan tidak dapat lepas dari laut. Menurut salah satu orang Bajo, “orang membuang ari-ari ke laut agar ia melancarkan hubungan orang Bajo dengan laut, agar si anak berenang dengan baik ketika ia muda, dan agar di kemudian hari ia mengikuti orang tuanya ke laut. Dengan demikian jiwanya selalu terarah ke laut”. Kuatnya hubungan orang Bajo dengan laut membuat mereka lebih memilih untuk tinggal dan hidup berpindah-pindah di laut daripada menetap di daratan.
Masyarakat suku Bajo mempercayai berbagai macam kepercayaan karena itu mereka tidaklah mempercayai konsep kekuatan tunggal yang sama. Namun walaupun tidak percaya kepada kekuatan tunggal, orang Bajo juga menjalankan puasa layaknya seperti ajaran di dalam agama Islam. Dalam kaitannya dengan dunia Bajo dan dunia setan, orang Bajo percaya bahwa hubungan antar manusia sama saja seperti hubungan manusia dengan setan. Bila dijelaskan lebih lanjut hubungan orang Bajo dengan setan sama saja perumpamaannya seperti saat orang (manusia) memberi dan menerima sama halnya dengan orang mempersembahkan dan mendapatkan sesuatu kembali dari setan. Dahulu, hubungan manusia dengan setan terjalin dengan baik. Namun lama kelamaan, manusia tidak dapat mematuhi aturan-aturan yang ada sehingga setan kini dapat berbuat jahat kepada manusia. Sesungguhnya, pada zaman terdahulu, setan merupakan istilah bagi roh apa saja yang dapat bersifat baik maupun jahat. Contohnya saja seperti roh penyembuh, roh sakit, dan lain sebagainya. Istilah “setan” sesungguhnya dipercaya berasal dari agama Islam. Kini, istilah “setan” digunakan untuk merujuk kepada kekuatan jahat, roh jahat tertentu yang berbeda dari roh lainnya dan tidak mempunyai hubungan baik dengan orang Bajo.

Senin, 26 Desember 2011

#010 Orang Bajo : Kehidupan Bermasyarakat



sumber : internet
Orang-orang Bajo suka sekali berkunjung dari rumah yang satu ke rumah yang lainnya. Dengan adanya kunjungan itu mereka bias memperkuat hubungan tali silaturahmi mereka. Orang-orang Bajo memasukkan orang lain ke dalam pandangan hidupnya tentang kehidupan. Menurut mereka, mengasingkan diri dari kelompok adalah suatu hal yang tidak wajar. Kunjungan dan percakapan adalah hal yang sangat penting bagi orang Bajo. Orang-orang Bajo juga dikenal dengan orang-orang yang tidak suka memaksa. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang sangat hormat kepada orang yang lebih tua. Dalam kehidupan bermasyarakat, Orang-orang Bajo tidak biasa menyembunyikan pikiran dan perasaan mereka. Bila ada orang yang menyimpan rahasia, maka bias dipastikan orang itu tidak menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan sekitarnya. Kebiasaan hidup orang-orang Bajo adalah hidup terbuka. Ketika berbicara, orang-orang Bajo tidak suka bertele-tele dan langsung kepada poin pembicaraan.

Mayarakat Bajo menitikberatkan keturunan dalam menjalin hubungan dengan sesamanya. Menurut mereka, anak cucu adalah visi masa depan mereka. Mereka beranggapan dengan adanya seorang anak (terutama anak sulung) bias mengangkat derajat kehidupan mereka. Dalam kehidupan orang Bajo, tidak baik bila pasangan suami istri tidak mempunyai anak. Bila pasangan ini tidak mempunyai anak, lingkungan disekitar mereka akan bingung memanggil nama mereka. Suami dan istri di masyarakat Bajo juga tidak memanggil suami atau istrinya dengan nama kecilnya. Biasanya suami istri ini akan dipanggil sebagai Paman Piana dan Bibi Piana. Seorang istri yang menyebut nama suaminya dianggap katula. Didalam kehidupan sehari-hari, perasaaan hormat kepada yng lebih tua sudah ditanamkan sejak dini. Orang tua mengajarkan istilah-istilah panggilan sesuai dengan kelompok-kelompok saudara. Bares  (kelompok paman-paman yang lebih tua daripada orangtuanya), Bares Pua (paman-paman, bibi-bibi, saudara-saudara, sepupu), Danakang (saudara laki-laki dan perempuannya), Ndi (adik-adiknya), Ka (kakak-kakaknya), Puto (sepupu perempuannya dan sepupu laki-lakinya dari Ayah).